RADARBANYUWANGI.ID – Kantor PCNU Banyuwangi kehadiran tamu istimewa, Minggu malam (26/4/2026) pukul 22.00. Usai mengisi ceramah penguatan organisasi dalam pelantikan pengurus MWCNU Kecamatan Banyuwangi di Aula Kementerian Agama Banyuwangi, mantan Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU itu nyambangi kantor PCNU di Jalan Ahmad Yani Banyuwangi.
Kedatangan Kiai Zulfa diterima oleh jajaran pengurus Tanfidziyah dan Katib. Ada Ketua Tanfidziyah Ahmad Turmudi, Wakil Ketua Riza Azizy, Sekretaris Moh Bisri Musthofa, Bendahara H Junaedi, Katib Ahmad Qosim, dan jajaran pengurus lainnya.
Kunjungan Kiai Zulfa lebih dari sekadar silaturahmi, melainkan ruang refleksi strategis terkait penguatan kepercayaan publik (public trust) Nahdliyin terhadap jam’iyyah.
Dalam suasana hangat dan dialogis, pertemuan itu mengulas dinamika internal organisasi, khususnya pasca fase karateker dan penunjukan pengurus. Pertanyaan mendasar mengenai bagaimana mengembalikan kepercayaan warga Nahdliyin mengemuka dan menjadi fokus diskusi bersama jajaran pengurus PCNU Banyuwangi.
Menanggapi hal tersebut, Kiai Zulfa yang juga Wakil Ketua PBNUmenyampaikan tiga prinsip kunci yang dapat menjadi pijakan strategis dalam membangun kembali legitimasi dan kepercayaan publik terhadap organisasi.
Pertama, pentingnya menjaga sikap kritis. Menurutnya, kritik dalam tubuh organisasi harus dimaknai sebagai upaya perbaikan, bukan bentuk pembangkangan. Sikap kritis yang berlandaskan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah justru menjadi kekuatan untuk menjaga kejernihan nalar sekaligus memperbaiki arah kebijakan organisasi.
Kedua, independensi organisasi. Kiai Zulfa menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama harus tetap menjaga kemandirian dari berbagai kepentingan jangka pendek. ”Independensi ini menjadi fondasi agar NU tetap mampu berdiri sebagai penyeimbang, bukan alat kepentingan kelompok tertentu, sehingga kepercayaan publik dapat tumbuh secara alami,’’ kata dia.
Ketiga, menjaga adab dan akhlak dalam setiap relasi, termasuk dengan pemerintah. Ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang santun tanpa kehilangan ketegasan prinsip. “Keras dalam prinsip, lembut dalam sikap,” menjadi kunci dalam menjaga marwah organisasi di tengah dinamika sosial dan politik,’’ tegasnya.
Dalam konteks Banyuwangi, pesan tersebut dinilai relevan sebagai momentum transformasi organisasi. Pasca masa transisi kepengurusan, PCNU Banyuwangi dihadapkan pada tantangan untuk memperkuat legitimasi dan meningkatkan kepercayaan warga Nahdliyin melalui langkah nyata yang konsisten, transparan, dan berintegritas.
Kiai Zulfa menegaskan bahwa kepercayaan publik tidak dapat dibangun melalui seremoni semata, melainkan melalui praktik nyata dalam pengelolaan organisasi. Dengan berpegang pada tiga prinsip—kritis, independen, dan beradab—PCNU Banyuwangi diharapkan mampu bangkit dan menjadi contoh tata kelola jam’iyyah yang matang. “Jaga akal sehat, jaga kemandirian, dan jangan tinggalkan akhlak,” pesan Kiai menutup pertemuan tersebut.
Editor : Lugas Rumpakaadi