RADARBANYUWANGI.ID– Pemerintah Kabupaten Jember memasang target ambisius untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga menembus kisaran Rp1,3 triliun sampai Rp1,6 triliun pada akhir 2026. Strategi utamanya tak lagi bertumpu pada pajak semata, melainkan menggenjot sektor kesehatan sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi.
Bupati Jember, Muhammad Fawait, menegaskan sektor layanan kesehatan kini menjadi tulang punggung baru peningkatan PAD. Hal itu disampaikan dalam agenda Pro Guse (Program dan Progres Gus Bupati) yang digelar di RSD dr. Soebandi, Kamis malam (23/4/2026).
“Pendapatan daerah salah satu yang menopang adalah sektor kesehatan. Kebangkitan RSD Soebandi dalam setahun terakhir memberikan dampak luar biasa,” ujar Fawait di hadapan OPD dan Forkopimda.
Efek UHC: Layanan Naik, Kepercayaan Publik Meningkat
Lonjakan kinerja sektor kesehatan tidak lepas dari implementasi program Universal Health Coverage (UHC) prioritas. Kebijakan ini membuka akses layanan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit daerah.
Dampaknya mulai terlihat nyata. Tidak hanya warga Jember, pasien dari luar daerah kini turut memanfaatkan layanan kesehatan di Jember.
Fawait bahkan mengungkapkan pengalaman langsung saat menemukan pasien dari luar kota yang dirawat di RSD dr. Soebandi.
“Ada pasien dari Situbondo, juga dari Bondowoso. Artinya Soebandi sudah menjadi daya tarik bagi masyarakat luar daerah,” ungkapnya.
Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor kesehatan mulai bertransformasi menjadi sektor produktif yang mampu menghasilkan nilai ekonomi.
Bidik Wisata Medis, Tiru Sukses Penang
Melihat tren tersebut, Pemkab Jember mulai mengarahkan pengembangan sektor kesehatan ke konsep wisata medis. Model ini dinilai memiliki potensi besar dalam mendatangkan pasien sekaligus mendorong perputaran ekonomi daerah.
Fawait mencontohkan keberhasilan Penang yang mampu melesat sebagai destinasi unggulan berkat layanan kesehatan berkualitas.
“Penang bisa maju karena wisata medis. Ini yang ingin kita dorong di Jember,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, sektor kesehatan tidak hanya berfungsi sebagai layanan publik, tetapi juga menjadi magnet ekonomi baru berbasis jasa.
Integrasi Sektor: Wisata, Pendidikan, dan Ekonomi
Strategi peningkatan PAD Jember tidak berdiri sendiri. Pemkab mengintegrasikan sektor kesehatan dengan pengembangan sektor lain, seperti wisata alam, wisata kota, hingga pendidikan.
Di sektor wisata kota, geliat ekonomi turut didorong oleh berbagai pusat aktivitas, termasuk kawasan Jember Fashion Carnaval Center yang menjadi ikon kreatif daerah.
Sementara itu, di bidang pendidikan, RSD dr. Soebandi kini juga berfungsi sebagai rumah sakit berbasis pendidikan (hospital base) yang mendukung pengembangan tenaga medis dan kesehatan.
Sinergi lintas sektor ini diyakini mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
PAD Naik 36 Persen Tanpa Naikkan Pajak
Optimisme Pemkab Jember bukan tanpa dasar. Sebelumnya, pemerintah daerah mencatat kenaikan pendapatan hingga 36 persen tanpa menaikkan pajak daerah.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa potensi pendapatan bisa digali dari sektor-sektor non-konvensional, terutama berbasis pelayanan publik yang berkualitas.
Model ini sekaligus menjadi pendekatan alternatif di tengah tekanan ekonomi, di mana peningkatan pendapatan tidak harus dibebankan kepada masyarakat melalui kenaikan pajak.
Jember Dibidik Jadi Pusat Ekonomi Baru Tapal Kuda
Dengan strategi diversifikasi sumber pendapatan dan penguatan sektor unggulan, Pemkab Jember optimistis mampu menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan tapal kuda Jawa Timur.
Fawait menegaskan bahwa keberhasilan target PAD sangat bergantung pada konsistensi pengembangan sektor strategis, terutama kesehatan yang kini mulai dilirik sebagai destinasi layanan medis regional.
“Kami mohon doa, semoga semua sektor berkembang—wisata alam, kota, pendidikan, hingga kesehatan—sehingga PAD Jember bisa melesat sesuai target,” pungkasnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin