RADARBANYUWANGI.ID - Ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino 2026 mulai diantisipasi serius oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 11 kecamatan dipetakan rawan kekeringan, sementara satuan tugas (satgas) khusus disiapkan untuk bergerak cepat sebelum krisis air dan kebakaran meluas.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi meningkatkan status kesiapsiagaan menghadapi potensi kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino tahun ini. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), langkah konkret dilakukan dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Antisipasi Kemarau Panjang yang siap diterjunkan sewaktu-waktu.
Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi, Partana, menegaskan bahwa pembentukan satgas ini merupakan tindak lanjut dari peringatan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi musim kering ekstrem secara nasional.
“Langkah ini menindaklanjuti imbauan BMKG. Kami tidak ingin terlambat. Mitigasi harus dilakukan sejak dini,” ujar Partana, Senin (27/4/2026), sebagaimana dilansir dari laman banyuwangikab.go.id.
Pemetaan Rawan Kekeringan: 11 Kecamatan Jadi Prioritas
Sebagai langkah awal, BPBD telah memetakan wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap kekeringan. Sebanyak 11 kecamatan masuk kategori prioritas penanganan, yakni:
-
Wongsorejo
-
Tegaldlimo
-
Singojuruh
-
Blimbingsari
-
Kabat
-
Gambiran
-
Purwoharjo
-
Siliragung
-
Muncar
-
Bangorejo
-
Pesanggaran
Selain itu, empat kecamatan masuk kategori kerawanan sedang, yaitu Glagah, Kalipuro, Giri, dan Cluring.
Sementara 10 kecamatan lainnya seperti Banyuwangi Kota, Rogojampi, Tegalsari, Srono, Songgon, Glenmore, Genteng, Licin, Kalibaru, dan Sempu tergolong berisiko rendah.
“Pemetaan ini menjadi dasar intervensi distribusi air bersih dan strategi pengamanan wilayah,” tegasnya.
Antisipasi Ganda: Kekeringan dan Karhutla
Tak hanya kekeringan, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi perhatian serius. BPBD Banyuwangi telah mengidentifikasi titik-titik rawan kebakaran, terutama di kawasan hutan produksi dan wilayah konservasi seperti Taman Nasional Alas Purwo.
Satgas yang dibentuk akan melibatkan lintas sektor, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), TNI-Polri, BMKG, Basarnas, hingga unsur masyarakat.
“Kolaborasi ini penting karena dampak kemarau panjang tidak bisa ditangani satu pihak saja,” jelas Partana.
Peran OPD Kunci: Air Jadi Fokus Utama
Dalam strategi mitigasi, sejumlah OPD memegang peranan vital, terutama Dinas Pertanian, Dinas Pengairan, serta Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM).
Ketiganya bertanggung jawab menjaga stabilitas pasokan air, baik untuk kebutuhan irigasi pertanian maupun konsumsi masyarakat.
“Distribusi air bersih dan pengelolaan debit menjadi kunci utama agar dampak kemarau tidak meluas,” imbuhnya.
Puncak Kemarau Diprediksi Agustus–September
Berdasarkan prakiraan BMKG, kemarau panjang tahun ini telah mulai terasa sejak awal April dan diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.
Situasi ini berpotensi memicu krisis air bersih, gagal panen, hingga kebakaran lahan jika tidak diantisipasi dengan baik.
Ironi Cuaca: Hujan Masih Tinggi, Risiko Bencana Tetap Ada
Meski bersiap menghadapi kemarau, Banyuwangi justru masih diguyur hujan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memicu bencana lain seperti banjir dan kerusakan infrastruktur.
Salah satu kejadian terbaru adalah amblesnya jembatan di Desa Sraten, Kecamatan Cluring, akibat terjangan banjir. Selain itu, banjir juga dilaporkan terjadi di wilayah Kalibaru.
“Kami tetap siaga terhadap bencana hidrometeorologi lainnya. Cuaca saat ini cukup dinamis,” kata Partana.
Penutup: Waspada Sejak Dini, Kunci Minimalkan Dampak
Dengan potensi El Nino yang diprediksi cukup kuat tahun ini, kesiapan Banyuwangi menjadi langkah penting dalam menekan dampak yang lebih luas. Pemetaan wilayah, pembentukan satgas, hingga koordinasi lintas sektor menjadi fondasi utama menghadapi musim kering ekstrem.
Masyarakat pun diimbau mulai menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran dan krisis air bersih.
Jika tidak diantisipasi sejak sekarang, kemarau panjang bukan hanya soal panas ekstrem—tetapi juga ancaman nyata bagi ketahanan pangan dan kehidupan warga. (*)
Editor : Ali Sodiqin