Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

11 Kecamatan Banyuwangi Rawan Kekeringan Ekstrem, El Nino 2026 Ancam Krisis Air Hingga 6 Bulan

Bagus Rio Rohman • Rabu, 22 April 2026 | 08:30 WIB
El Nino 2026 ancam Banyuwangi. Sebanyak 11 kecamatan masuk zona rawan kekeringan. BPBD minta warga waspada krisis air. (Ilustrasi ChatGPT Image)
El Nino 2026 ancam Banyuwangi. Sebanyak 11 kecamatan masuk zona rawan kekeringan. BPBD minta warga waspada krisis air. (Ilustrasi ChatGPT Image)

RADARBANYUWANGI.ID – Ancaman krisis air di Banyuwangi kian nyata. Sebanyak 11 kecamatan masuk kategori rawan kekeringan ekstrem, seiring prediksi musim kemarau panjang hingga enam bulan akibat fenomena El Niño pada 2026.

Peringatan ini bukan sekadar prediksi. Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menunjukkan El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat berpotensi berlangsung pada semester II 2026, khususnya April hingga Oktober—periode krusial bagi ketersediaan air.

11 Kecamatan Masuk Zona Merah

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banyuwangi langsung memetakan wilayah terdampak. Hasilnya, 11 kecamatan diklasifikasikan dalam risiko tinggi kekeringan:

Wongsorejo, Blimbingsari, Singojuruh, Kabat, Gambiran, Siliragung, Muncar, Purwoharjo, Bangorejo, Pesanggaran, dan Tegaldlimo.

Kalaksa BPBD Banyuwangi, Partana, menegaskan bahwa wilayah rawan tahun ini mengalami perluasan signifikan.

“Wilayah klaster tinggi makin meluas karena ketersediaan air semakin menyurut,” ujarnya.

Selain itu, empat kecamatan masuk kategori risiko sedang—Glagah, Kalipuro, Giri, dan Cluring—sementara 10 kecamatan lainnya tergolong risiko rendah.

Belajar dari El Nino Terburuk

Pemetaan ini tidak dibuat sembarangan. BPBD mengacu pada rekam jejak kekeringan parah saat El Nino 2015 dan 2023, yang sempat memicu krisis air di sejumlah wilayah Banyuwangi.

Kini, dengan indikasi kemarau lebih panjang, potensi dampaknya diprediksi lebih luas.

Kemarau yang biasanya berlangsung 3–4 bulan bisa memanjang hingga enam bulan. Artinya, tekanan terhadap sumber air bersih, pertanian, hingga kebutuhan domestik akan meningkat drastis.

Ancaman Nyata: Air Menyusut, Risiko Meluas

Kondisi ini berpotensi memicu berbagai dampak:

Jika tidak diantisipasi, Banyuwangi berisiko menghadapi krisis air berlapis—tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga sektor ekonomi.

BPBD Siapkan Langkah Antisipasi

BPBD Banyuwangi memastikan langkah mitigasi mulai disiapkan. Koordinasi lintas instansi akan diperkuat untuk menghadapi potensi kekeringan panjang.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi kekurangan debit air,” tegas Partana.

Langkah ini mencakup pemetaan sumber air, distribusi bantuan, hingga kesiapan logistik jika kondisi memburuk.

Warga Diminta Waspada Lebih Awal

Dengan prediksi kemarau panjang yang sudah di depan mata, masyarakat diminta mulai meningkatkan kewaspadaan.

Penghematan air, pengelolaan sumber daya, hingga kesiapan menghadapi kondisi darurat menjadi kunci menghadapi musim kering tahun ini.

Banyuwangi kini berada di titik krusial. Jika prediksi El Nino 2026 benar terjadi, maka enam bulan ke depan bukan sekadar musim kemarau—melainkan ujian ketahanan air bagi seluruh wilayah. (rio/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#El Nino 2026 #kekeringan Banyuwangi #musim kemarau panjang #bpbd banyuwangi #krisis air