RADARBANYUWANGI.ID – Ancaman krisis air di Banyuwangi kian nyata. Sebanyak 11 kecamatan masuk kategori rawan kekeringan ekstrem, seiring prediksi musim kemarau panjang hingga enam bulan akibat fenomena El Niño pada 2026.
Peringatan ini bukan sekadar prediksi. Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menunjukkan El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat berpotensi berlangsung pada semester II 2026, khususnya April hingga Oktober—periode krusial bagi ketersediaan air.
11 Kecamatan Masuk Zona Merah
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banyuwangi langsung memetakan wilayah terdampak. Hasilnya, 11 kecamatan diklasifikasikan dalam risiko tinggi kekeringan:
Wongsorejo, Blimbingsari, Singojuruh, Kabat, Gambiran, Siliragung, Muncar, Purwoharjo, Bangorejo, Pesanggaran, dan Tegaldlimo.
Kalaksa BPBD Banyuwangi, Partana, menegaskan bahwa wilayah rawan tahun ini mengalami perluasan signifikan.
“Wilayah klaster tinggi makin meluas karena ketersediaan air semakin menyurut,” ujarnya.
Selain itu, empat kecamatan masuk kategori risiko sedang—Glagah, Kalipuro, Giri, dan Cluring—sementara 10 kecamatan lainnya tergolong risiko rendah.
Belajar dari El Nino Terburuk
Pemetaan ini tidak dibuat sembarangan. BPBD mengacu pada rekam jejak kekeringan parah saat El Nino 2015 dan 2023, yang sempat memicu krisis air di sejumlah wilayah Banyuwangi.
Kini, dengan indikasi kemarau lebih panjang, potensi dampaknya diprediksi lebih luas.
Kemarau yang biasanya berlangsung 3–4 bulan bisa memanjang hingga enam bulan. Artinya, tekanan terhadap sumber air bersih, pertanian, hingga kebutuhan domestik akan meningkat drastis.
Ancaman Nyata: Air Menyusut, Risiko Meluas
Kondisi ini berpotensi memicu berbagai dampak:
-
Penurunan debit sumber air
-
Gangguan distribusi air bersih
-
Ancaman gagal panen
-
Konflik penggunaan air antarwilayah
Jika tidak diantisipasi, Banyuwangi berisiko menghadapi krisis air berlapis—tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga sektor ekonomi.
BPBD Siapkan Langkah Antisipasi
BPBD Banyuwangi memastikan langkah mitigasi mulai disiapkan. Koordinasi lintas instansi akan diperkuat untuk menghadapi potensi kekeringan panjang.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi kekurangan debit air,” tegas Partana.
Langkah ini mencakup pemetaan sumber air, distribusi bantuan, hingga kesiapan logistik jika kondisi memburuk.
Warga Diminta Waspada Lebih Awal
Dengan prediksi kemarau panjang yang sudah di depan mata, masyarakat diminta mulai meningkatkan kewaspadaan.
Penghematan air, pengelolaan sumber daya, hingga kesiapan menghadapi kondisi darurat menjadi kunci menghadapi musim kering tahun ini.
Banyuwangi kini berada di titik krusial. Jika prediksi El Nino 2026 benar terjadi, maka enam bulan ke depan bukan sekadar musim kemarau—melainkan ujian ketahanan air bagi seluruh wilayah. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin