RADARBANYUWANGI.ID – Cara unik dilakukan warga Banyuwangi untuk memperingati Hari Kartini.
Puluhan ibu-ibu menggelar senam massal dengan mengenakan celemek di Taman Blambangan, Senin pagi (21/4). Aksi ini menjadi simbol kuat kesetaraan peran perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari.
Sejak pagi, suasana taman kota tersebut dipenuhi peserta senam yang tampil berbeda dari biasanya.
Mereka mengenakan celemek di atas pakaian olahraga, bergerak energik mengikuti irama musik dangdut dan lagu khas Banyuwangi.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bertahan Hidup! Ini Cara Cerdas Selamat di Tengah Guncangan Ekonomi 2026
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya diikuti kaum perempuan. Sejumlah bapak-bapak juga turut ambil bagian, bahkan ikut mengenakan celemek yang sama.
“Tidak cuma ibu-ibu, ada bapak-bapak juga yang ikut senam pakai celemek,” ujar Budi, salah satu peserta.
Penggunaan celemek bukan tanpa makna. Atribut yang identik dengan pekerjaan domestik itu sengaja diangkat sebagai simbol bahwa tanggung jawab rumah tangga bukan hanya milik perempuan, melainkan dapat dibagi secara setara.
“Semua kostumnya sama, sebagai tanda bahwa tanggung jawab di rumah juga sama,” imbuhnya.
Ketua Komunitas Senam Gyarus, Masrur Hasan, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bentuk perayaan Hari Kartini yang tidak hanya seremonial, tetapi juga sarat pesan sosial.
Baca Juga: Anti Panik! Rahasia Lolos Tryout SNBT 2026 Tanpa Deg-degan, Dijamin Lebih Tenang dan Fokus
Menurutnya, selain mengampanyekan gaya hidup sehat, penggunaan celemek menjadi pengingat bahwa perempuan memiliki ruang yang sama untuk beraktivitas di luar rumah tanpa meninggalkan perannya.
“Kami ingin menyampaikan pesan bahwa ibu-ibu juga bisa beraktivitas dengan leluasa seperti bapak-bapak,” tegas Masrur.
Pelatih senam, Dian Ekawati, menambahkan bahwa setiap momen peringatan selalu dimanfaatkan untuk membangun semangat kebersamaan dan partisipasi aktif peserta.
Pada peringatan tahun ini, celemek dipilih sebagai simbol yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Tabel KUR Perumahan Mandiri 2026: Cicilan Mulai Rp193 Ribu, Solusi Bangun Rumah atau Usaha
“Meskipun kita memiliki berbagai profesi, kita tetap ingat tugas kita sebagai ibu rumah tangga,” ujarnya.
Peringatan Hari Kartini di Banyuwangi ini tidak hanya menampilkan kreativitas, tetapi juga merefleksikan semangat emansipasi yang terus relevan hingga kini.
Sosok Raden Ajeng Kartini yang dahulu memperjuangkan kesetaraan, kini dihidupkan kembali dalam berbagai bentuk aksi nyata di tengah masyarakat.
Dari gerakan senam sederhana hingga pesan kesetaraan yang disampaikan, kegiatan ini menjadi bukti bahwa semangat Kartini terus tumbuh—tidak hanya dalam kata, tetapi juga dalam tindakan. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin