Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

44 Perahu Layar Adu Cepat di Selat Bali, Angin Kencang Jadi Ujian: Tradisi 26 Tahun Nelayan Banyuwangi-Bali Memanas

Fredy Rizki Manunggal • Senin, 20 April 2026 | 03:30 WIB
JADI TRADISI: Perahu nelayan adu asal Banyuwangi dan Bali cepat menyeberangi Selat Bali dalam Lomba Perahu Layar yang digelar para nelayan, Minggu (19/4). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
JADI TRADISI: Perahu nelayan adu asal Banyuwangi dan Bali cepat menyeberangi Selat Bali dalam Lomba Perahu Layar yang digelar para nelayan, Minggu (19/4). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Angin kencang yang menerpa Selat Bali Minggu pagi (19/4) tak menyurutkan semangat para nelayan. Sebanyak 44 perahu layar justru saling berpacu, menguji nyali dan keterampilan dalam lomba tradisi yang sarat gengsi sekaligus risiko.

Layar warna-warni terkembang di perairan Selat Bali. Di balik pemandangan indah itu, tersimpan persaingan sengit antar nelayan dari dua wilayah: Banyuwangi dan Bali. Sedikit kesalahan mengatur layar, perahu bisa kehilangan kendali—bahkan patah di tengah lintasan.

Baca Juga: JK Meradang Dituduh Lawan Jokowi: “Saya yang Bawa dari Solo ke Istana!”

Sebanyak 30 perahu merupakan perwakilan nelayan Banyuwangi, Jawa Timur, dari berbagai wilayah, mulai Desa Bimorejo hingga Muncar. Sementara 14 perahu lainnya datang dari nelayan Bali yang ikut meramaikan sekaligus menambah tensi kompetisi.

Adu Cepat di Jalur Rawan

Lintasan lomba dimulai dari pantai belakang Hotel Manyar menuju Pantai Gilimanuk. Total jarak tempuh mencapai 6 mil laut sekali jalan—atau 12 mil laut untuk pulang-pergi.

Di tengah terpaan angin yang cukup kencang, kemampuan membaca arah angin menjadi kunci kemenangan. Ketua panitia lomba, Muhamad Husain, menegaskan bahwa faktor teknis jauh lebih menentukan dibanding sekadar kecepatan.

“Kalau tidak bisa mengatur layar, kapal bisa patah dan tidak jalan. Jadi bukan hanya angin, tapi kemampuan nelayan yang diuji,” ujarnya.

Tak hanya berpacu dengan waktu, peserta juga harus disiplin mengikuti jalur yang telah ditentukan panitia. Pengawasan ketat dilakukan menggunakan jetski serta perahu pengaman untuk mencegah peserta keluar lintasan—yang bisa berujung diskualifikasi atau bahkan kecelakaan.

Baca Juga: CPNS 2026 Dibuka Agustus? Ini Formasi 160 Ribu yang Disiapkan, Pelamar Diminta Bersiap

“Rata-rata waktu tempuh 12 mil laut itu sekitar 19 sampai 20 menit. Kalau angin bagus seperti Agustus, bisa 15 menit,” tambahnya.

Gengsi Nelayan, Bukan Sekadar Hadiah

Di balik kompetisi yang berlangsung panas, lomba ini menyimpan makna lebih dalam. Bagi para nelayan, ajang ini bukan sekadar adu cepat, melainkan momentum mempererat hubungan antar komunitas pesisir.

Tradisi yang telah berjalan selama 26 tahun ini menjadi ruang silaturahmi antara nelayan Banyuwangi dan Bali. Bahkan, hadiah yang diperebutkan tidak menjadi fokus utama.

“Yang penting silaturahmi. Hadiah juga dari pendaftaran, jadi ini dari nelayan untuk nelayan,” kata Husain, yang juga Ketua Kelompok Nelayan Janur Kuning asal Kelurahan Bulusan.

Sebanyak 10 perahu terbaik akan keluar sebagai juara. Setiap perahu diawaki dua nelayan yang seluruhnya merupakan pelaut aktif—bukan peserta dadakan.

Hiburan Rakyat, Dorong Ekonomi Lokal

Lomba ini juga menjadi magnet hiburan gratis bagi warga pesisir, khususnya di sekitar Desa Ketapang dan Kelurahan Bulusan. Deretan pohon cemara udang di sepanjang pantai menciptakan suasana teduh, membuat warga betah menyaksikan lomba dari pagi hingga siang.

Baca Juga: Tol Gilimanuk–Mengwi Dirombak, Tak Lagi Full Tol: Pemerintah Kejar Target 2031 di Tengah Minat Investor

Tak hanya itu, potensi ekonomi lokal ikut bergerak. Kehadiran penonton membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk menjajakan dagangan.

Camat Kalipuro, M Nuril Falah, melihat potensi besar dari tradisi ini. Ia berharap ada dukungan lebih dari pemerintah untuk meningkatkan kenyamanan lokasi sekaligus mendongkrak dampak ekonomi.

“Nanti kita upayakan ada paving di sekitar lokasi supaya lebih nyaman. UMKM juga bisa ikut menikmati,” ujarnya.

Antara Tradisi dan Tantangan Modern

Di tengah modernisasi alat tangkap dan teknologi maritim, lomba perahu layar ini menjadi simbol ketangguhan cara tradisional yang tetap bertahan. Namun di sisi lain, tantangan keselamatan dan fasilitas menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terjawab.

Selama angin masih menjadi penentu utama, risiko akan selalu mengintai. Dan selama itu pula, lomba ini akan terus menjadi panggung adu keberanian nelayan—bukan hanya melawan sesama, tetapi juga menaklukkan alam. (fre/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#lomba perahu layar Banyuwangi #nelayan Banyuwangi Bali #tradisi nelayan #selat bali #wisata banyuwangi