RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah tekanan efisiensi anggaran yang membelit banyak desa, Pemerintah Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, justru mengambil langkah berani.
Mereka merampungkan pembangunan Gedung Olahraga (GOR) bertaraf nasional berkapasitas 2.500 orang—sebuah proyek ambisius yang tak lazim di level desa.
Langkah ini menjadi kontras di saat banyak wilayah memilih menahan pembangunan fisik. Tulungrejo justru tancap gas, menempatkan investasi pada generasi muda sebagai prioritas utama.
GOR yang diberi nama Sorga (Sarana Olahraga) itu resmi dibuka pada Sabtu (18/4) dalam seremoni meriah yang menyedot perhatian warga dan tamu undangan.
Dibangun Tiga Tahun, Akhirnya Rampung
Kepala Desa Tulungrejo, M. Ikhsan, mengungkapkan pembangunan GOR tersebut bukan proyek instan. Butuh waktu hingga tiga tahun untuk menyelesaikannya.
“Alhamdulillah akhirnya selesai. Ini perjuangan panjang, tapi kami yakin hasilnya akan bermanfaat besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Peresmian yang semula direncanakan dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani itu tetap berlangsung semarak meski tanpa kehadiran kepala daerah. Antusiasme warga justru menjadi bukti bahwa fasilitas ini telah lama dinantikan.
Taruhan Besar pada Generasi Muda
Ikhsan tidak menampik, pembangunan GOR ini adalah bentuk “taruhan” desa terhadap masa depan generasi muda.
Ia ingin memastikan anak-anak muda Tulungrejo memiliki ruang layak untuk berkembang, khususnya di bidang olahraga.
Baca Juga: CPNS 2026 Dibuka Agustus? Ini Formasi 160 Ribu yang Disiapkan, Pelamar Diminta Bersiap
“Harapannya, dari sini lahir atlet-atlet berbakat. Kami ingin pemuda punya ruang untuk mengasah potensi, bukan hanya berkumpul tanpa arah,” tegasnya.
GOR ini tidak hanya difungsikan sebagai lapangan voli indoor, tetapi juga dilengkapi area luar yang kini rutin dimanfaatkan warga untuk aktivitas olahraga ringan seperti jalan santai.
Disulap Jadi Pusat Ekonomi Baru
Tak berhenti pada fungsi olahraga, Pemdes Tulungrejo juga menyiapkan strategi lanjutan: menjadikan GOR sebagai pusat ekonomi kreatif desa.
Di sekitar area gedung, telah disiapkan stan dan ruko bagi pelaku UMKM. Harapannya, setiap kegiatan olahraga dapat langsung menggerakkan roda ekonomi warga.
“UMKM bisa jualan di sini. Kami ingin GOR ini hidup, tidak hanya ramai saat event saja,” kata Ikhsan.
Langkah itu langsung diuji. Usai peresmian, digelar turnamen bola voli yang diikuti tim dari berbagai daerah, bahkan luar Banyuwangi.
Minim Anggaran, Maksimalkan Kolaborasi
Di balik megahnya bangunan, ada satu fakta yang cukup mencolok: proyek ini tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran desa.
Ikhsan mengakui, pembangunan GOR dilakukan dengan skema kolaboratif, melibatkan berbagai pihak termasuk anggota DPRD Banyuwangi.
Ia menyebut kontribusi sejumlah pihak diberikan dalam bentuk fisik bangunan, bukan sekadar dukungan administratif.
“Terima kasih kepada semua pihak yang membantu, termasuk Bu Ficky dan Pak Ruli yang ikut mendukung pembangunan ini,” ungkapnya.
Model Baru Pembangunan Desa?
Langkah Tulungrejo bisa menjadi model alternatif pembangunan desa: berani berinvestasi pada fasilitas publik yang berdampak ganda—olahraga dan ekonomi.
Namun di sisi lain, keberlanjutan pengelolaan GOR menjadi tantangan berikutnya. Tanpa manajemen yang baik, fasilitas megah berisiko menjadi beban baru.
Kini, publik menanti apakah GOR Sorga benar-benar menjadi pusat lahirnya atlet dan penggerak ekonomi desa—atau sekadar proyek prestisius yang sulit dirawat dalam jangka panjang. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin