RADARBANYUWANGI.ID – Ancaman kekeringan mulai nyata di Banyuwangi. Menyusutnya debit air di Dam Singir atau Dam Blambangan memaksa petani menghadapi situasi krusial: antre air untuk menghidupi sawah mereka.
Penurunan drastis aliran air ini terjadi seiring berkurangnya intensitas hujan dalam beberapa pekan terakhir, terutama di wilayah selatan Banyuwangi.
Dampaknya langsung terasa pada sistem irigasi yang selama ini menjadi tumpuan ribuan hektare lahan pertanian.
Pantauan di Dam Singir yang berada di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Aliran air dari hulu yang biasanya stabil kini melemah drastis, bahkan nyaris tak terbaca pada alat ukur.
Petugas Pintu Air (PPA) Dam Singir, Puas Rohani, mengungkapkan bahwa debit air mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
“Dalam kondisi normal, aliran air yang masuk ke dam bisa mencapai 20 sampai 30 sentimeter. Sekarang justru di bawah nol sentimeter,” jelasnya.
Penyebab utama kondisi ini adalah minimnya curah hujan di wilayah hulu, terutama dari Kecamatan Cluring dan Srono yang selama ini menjadi pemasok utama aliran sungai ke Dam Singir.
Situasi tersebut memaksa petugas irigasi mengambil langkah darurat: sistem penggiliran air. Air yang tersedia tidak lagi bisa mengalir terus-menerus ke seluruh lahan, melainkan harus dibagi bergantian antarwilayah.
“Air mulai kecil, jadi aliran ke persawahan digilir dari satu lokasi ke lokasi lain,” tambah Puas.
Kebijakan ini menjadi pilihan terakhir untuk menjaga agar seluruh lahan tetap mendapat pasokan air, meski dalam jumlah terbatas.
Namun, di lapangan, kondisi ini memicu kekhawatiran petani, terutama bagi mereka yang berada di wilayah hilir.
Sejumlah daerah yang mulai terdampak antara lain Desa Bagorejo di Kecamatan Srono serta beberapa desa di Kecamatan Muncar.
Wilayah-wilayah tersebut sangat bergantung pada suplai air dari Dam Singir untuk kebutuhan irigasi.
Jika kondisi ini terus berlanjut, risiko gagal panen bukan lagi sekadar ancaman. Terlebih, masa tanam yang membutuhkan suplai air stabil tidak bisa menunggu ketidakpastian cuaca.
Upaya antisipasi terus dilakukan petugas dengan mengatur jadwal distribusi air secara ketat. Namun, keterbatasan debit membuat ruang manuver semakin sempit.
“Untuk mengantisipasi kekeringan, petugas menggilir aliran air ke lahan pertanian,” tegasnya.
Fenomena ini kembali menegaskan rapuhnya ketahanan air di sektor pertanian saat musim kemarau mulai datang lebih awal.
Tanpa strategi pengelolaan air yang lebih adaptif, petani akan terus berada di garis depan krisis—menghadapi cuaca yang tak menentu dengan sumber daya yang kian terbatas. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin