Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

HUT Kongco Tan Hu ke-242 di Banyuwangi, 8 Rupang dari Luar Daerah Ramaikan Ritual Langka Ju Hui

Fredy Rizki Manunggal • Jumat, 17 April 2026 | 05:30 WIB
MERIAH: Grup Toa Koo Jue memainkan musik khas Tionghoa saat menyambut kedatangan rupang alias patung dewa-dewi dari berbagai daerah di Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi Kamis (16/4). (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)
MERIAH: Grup Toa Koo Jue memainkan musik khas Tionghoa saat menyambut kedatangan rupang alias patung dewa-dewi dari berbagai daerah di Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi Kamis (16/4). (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kongco Tan Hu Cin Jin ke-242 di Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi tak sekadar seremoni rutin. Tahun ini, peringatan berlangsung lebih semarak sekaligus sarat makna, dengan hadirnya delapan rupang (Kiem Sin) dari berbagai daerah dalam ritual langka yang baru pertama kali digelar.

Momen ini menjadi magnet spiritual sekaligus budaya. Tak hanya umat dari Banyuwangi, sebanyak 25 perwakilan klenteng dari berbagai kota turut hadir, mempertegas skala perayaan yang meluas lintas daerah.

Sorotan utama tertuju pada ritual Shen Ming Ju Hui—pertemuan para dewa—yang menghadirkan delapan rupang dari delapan klenteng berbeda. Rupang-rupang tersebut datang dari berbagai kota, mulai Jember, Probolinggo, Mojokerto, Surabaya, Madiun, Pamekasan, Bangkalan, hingga Lombok.

Kehadiran rupang ini bukan sekadar simbolik. Prosesi penyambutannya berlangsung meriah, diiringi alunan musik khas Tionghoa dari grup Toa Koo Jue. Dua barongsai turut diturunkan, menyambut kedatangan para “tamu agung” yang menjadi representasi dewa-dewa yang dipuja.

“Ada delapan rupang yang dibawa oleh delapan klenteng. Ini yang pertama kalinya digelar di Hoo Tong Bio,” ujar Ardiyan, salah satu umat.

Ritual Ju Hui ini menjadi simbol kuat persatuan lintas klenteng. Delapan rupang yang dibawa dari berbagai daerah dipertemukan dalam satu tempat sebagai bentuk penghormatan terhadap Kongco Tan Hu Cin Jin sekaligus mempererat ikatan spiritual antarumat.

Tak hanya klenteng pembawa rupang, puluhan perwakilan klenteng dan vihara lain juga turut hadir. Mereka datang dari berbagai wilayah di Jawa Timur, Bali, hingga Lombok. Di antaranya Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, Sam Poo Sing Bio Surabaya, Sumber Naga Probolinggo, hingga Vihara Dharmayana Kuta dan Klenteng Cao Fuk Miao Denpasar.

“Yang tidak membawa rupang juga ikut sembahyang. Karena kedelapan rupang selama dua hari akan tetap berada di sini,” jelas Ardiyan.

Kehadiran rupang-rupang tersebut selama dua hari menjadikan Hoo Tong Bio sebagai pusat spiritual sementara bagi umat Tri Dharma dari berbagai daerah.

Pengurus Klenteng Hoo Tong Bio, Alexander Martin, menambahkan bahwa puncak perayaan akan digelar pada Jumat pagi (17/4). Rangkaian acara dimulai dengan ritual Ju Hui, dilanjutkan atraksi barongsai, sembahyang bulan kosong, hingga malam resepsi dan hiburan.

“Ini momen yang kami harapkan bisa menjadi kesempatan semua umat untuk berkumpul, sembahyang bersama, dan memperkuat kebersamaan,” ujarnya.

Di tengah dinamika kehidupan modern, perayaan ini menjadi ruang penting untuk menjaga tradisi sekaligus merawat persaudaraan lintas daerah. Ritual yang untuk pertama kalinya digelar ini pun menjadi penanda bahwa Banyuwangi bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga titik temu budaya dan spiritual yang hidup.

Dengan skala partisipasi yang terus meluas, perayaan HUT Kongco Tan Hu ke-242 bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga simbol kuat harmoni dan jejaring antarumat Tri Dharma di Indonesia. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#HUT Kongco Tan Hu #ritual Ju Hui #rupang kelenteng #Klenteng Hoo Tong Bio #banyuwangi