Sejarah RSUD Blambangan Banyuwangi: Peletakan Batu Pertama 1935 Pakai Sekop Emas hingga Jadi Ikon Kesehatan

M Ksatria Raya • Dipublikasikan Kamis, 16 April 2026 | 08:00 WIB
TEMPO DULU: Kondisi bangunan RSUD Blambangan pada tahun 1954 yang beralamat di Jalan Letkol Istiqlah, Kelurahan Singonegaran Banyuwangi. (Munawir Banjoewangi Tempo Doeloe)
TEMPO DULU: Kondisi bangunan RSUD Blambangan pada tahun 1954 yang beralamat di Jalan Letkol Istiqlah, Kelurahan Singonegaran Banyuwangi. (Munawir Banjoewangi Tempo Doeloe)

RADARBANYUWANGI.ID – Kabupaten Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang kaya akan jejak sejarah. Salah satu warisan penting di bidang kesehatan adalah berdirinya RSUD Blambangan yang hingga kini menjadi pusat layanan kesehatan masyarakat.

Di balik megahnya bangunan rumah sakit tersebut saat ini, tersimpan kisah panjang sejak masa kolonial. Bahkan, sisa-sisa bangunan kuno masih tampak jelas dan tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas sejarah.

Peletakan Batu Pertama Tahun 1935 yang Bersejarah

Berdasarkan catatan sejarah, peletakan batu pertama RSUD Blambangan dilakukan pada Sabtu, 16 November 1935 pukul 10.00. Peristiwa penting itu bahkan tercatat dalam arsip surat kabar Belanda.

Ketua Banjoewangi Tempo Doeloe, Munawir, mengungkapkan bahwa informasi tersebut ia temukan dalam koran Belanda Soerabaiasch Handelsblad edisi 19 November 1935.

“Dari arsip tersebut diketahui bahwa peletakan batu pertama dilakukan oleh istri Bupati Banyuwangi saat itu,” ujarnya.

Tokoh yang dimaksud adalah Raden Ajoe Toemenggoeng Moertadjab Sosrodiningrat, istri dari Moertadjab Soeroadiningrat.

Prosesi tersebut berlangsung secara simbolis dan sarat makna. Batu pertama diletakkan dengan adukan semen menggunakan sekop emas dari wadah emas, lalu ditempatkan di atas lempeng marmer yang telah disiapkan.

“Prosesi ini menunjukkan betapa pentingnya pembangunan rumah sakit tersebut pada masa itu,” jelas Munawir.

Dihadiri Pejabat Pribumi hingga Eropa

Acara peletakan batu pertama tersebut berlangsung meriah. Sejumlah pejabat pemerintahan, baik dari kalangan pribumi maupun Eropa, turut hadir bersama para istri mereka.

Tak hanya itu, para administrator perusahaan perkebunan di sekitar Banyuwangi juga ikut menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Menariknya, setelah prosesi peletakan batu pertama, dilakukan pula ritual pengorbanan seekor kerbau sebagai bagian dari tradisi untuk memperkuat pondasi bangunan utama.

“Setelah itu, para tamu diarahkan ke gudang untuk mengikuti selamatan yang telah disiapkan bagi pegawai pribumi,” tambah Munawir.

Dibangun Cepat, Selesai Kurang dari Setahun

Pembangunan RSUD Blambangan pada masa itu tergolong cepat. Proyek tersebut dikerjakan oleh pengelola setempat dengan target penyelesaian yang relatif singkat.

“Mulai dari peletakan batu pertama pada November 1935, pembangunan selesai sekitar Februari 1936,” ungkap Munawir.

Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah kolonial dalam menghadirkan fasilitas kesehatan yang memadai bagi masyarakat Banyuwangi saat itu.

Sempat Berpindah Lokasi, Bekas Penjara Jadi Cikal Bakal

Sebelum menempati lokasi yang sekarang di Jalan Letkol Istiqlah, Kelurahan Singonegaran, RSUD Blambangan sempat berada di lokasi lain.

Munawir menjelaskan, awalnya rumah sakit tersebut berdiri di kawasan yang kini menjadi Kantor Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Permukiman (DPUCKPP) Banyuwangi hingga area SLB Negeri Banyuwangi.

Bahkan, bangunan awal tersebut disebut merupakan bekas penjara yang kemudian dialihfungsikan menjadi fasilitas layanan kesehatan.

“Lokasi dipindah karena kapasitas tidak mencukupi, sehingga dibangun rumah sakit baru yang lebih representatif,” jelasnya.

Warisan Sejarah yang Masih Terjaga

Kini, hampir satu abad berlalu, RSUD Blambangan tetap berdiri kokoh sebagai rumah sakit rujukan di Banyuwangi. Sejumlah bangunan lama masih dipertahankan sebagai bagian dari warisan sejarah.

Kisah peletakan batu pertama dengan sekop emas menjadi simbol awal perjalanan panjang rumah sakit ini dalam melayani masyarakat.

Tak hanya menjadi fasilitas kesehatan, RSUD Blambangan juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Banyuwangi dari masa kolonial hingga era modern.

Pelestarian bangunan bersejarah di lingkungan rumah sakit ini menjadi bukti bahwa kemajuan layanan kesehatan dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas dan nilai sejarah daerah. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
sejarah RSUD Blambangan Banyuwangi tempo dulu sekop emas 1935 rumah sakit Banyuwangi Banjoewangi Tempo Doeloe