Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

RSUD Blambangan Banyuwangi: Dari Bangunan Kuno Era 1930 Kini Menjadi RS Tipe B, Sejarah Tetap Terjaga

Fredy Rizki Manunggal • Kamis, 16 April 2026 | 07:00 WIB
MASIH TERJAGA: Kantor timur RSUD Blambangan yang ditempati direktur merupakan salah satu bagian cagar budaya. Di sana tertulis nomor VP 1937. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MASIH TERJAGA: Kantor timur RSUD Blambangan yang ditempati direktur merupakan salah satu bagian cagar budaya. Di sana tertulis nomor VP 1937. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – RSUD Blambangan menjadi saksi perjalanan panjang layanan kesehatan di Banyuwangi. Berdiri sejak era kolonial pada tahun 1930, rumah sakit ini kini menjelma menjadi rumah sakit tipe B dengan pelayanan yang semakin modern, tanpa meninggalkan jejak sejarahnya.

Direktur RSUD Blambangan, Siti Aisyah Anggraeni, mengungkapkan bahwa perjalanan rumah sakit ini dimulai dari fasilitas yang sangat sederhana.

“Awalnya hanya ada empat ruangan, yakni ruang bedah, ruang bersalin, rawat jalan, dan ruang penyakit dalam,” ujarnya.

Sempat Pindah Akibat Krisis Gizi dan Agresi Militer

Seiring perkembangan zaman, RSUD Blambangan mengalami berbagai dinamika. Pada tahun 1940, rumah sakit ini sempat dipindahkan ke wilayah Glagah untuk menangani kasus kekurangan gizi yang melanda masyarakat saat itu.

Kemudian, pasca Agresi Militer Belanda II, rumah sakit kembali ke lokasi awal di kawasan Singonegaran pada tahun 1949.

Pada masa kepemimpinan Razak Rusman, terjadi perkembangan signifikan dengan penambahan berbagai fasilitas layanan, termasuk ruang anak hingga penanganan kecelakaan.

“Mulai tahun 1949 ada penambahan ruang-ruang baru untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat,” terang Aisyah.

Kini Layani 700 Pasien per Hari

Memasuki era modern, RSUD Blambangan berkembang pesat menjadi rumah sakit tipe B. Saat ini, rata-rata kunjungan pasien mencapai sekitar 700 orang per hari.

Meski demikian, rumah sakit ini tetap mempertahankan sejumlah bangunan lama yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Beberapa di antaranya adalah gedung yang kini digunakan sebagai kantor manajemen, eks rumah dinas dokter spesialis yang difungsikan sebagai kantor diklat, serta sejumlah ruang layanan seperti ruang hemodialisa, ruang Sritanjung, dan ruang laundry.

“Yang masih digunakan untuk pelayanan langsung adalah ruang hemodialisa dan ruang Sritanjung. Untuk laundry masih digunakan, namun dalam waktu dekat akan dipindahkan ke tempat yang lebih representatif,” jelas Aisyah.

Renovasi Tanpa Menghilangkan Nilai Sejarah

Upaya modernisasi tetap dilakukan tanpa mengubah karakter asli bangunan. Penyesuaian hanya dilakukan pada aspek interior agar sesuai dengan standar layanan kesehatan saat ini.

“Jendela, pintu, hingga struktur utama masih dipertahankan. Kami hanya memperluas ruang rawat agar lebih nyaman tanpa sekat,” tambahnya.

Gedung yang kini digunakan sebagai kantor direktur bahkan merupakan bangunan tertua di lingkungan RSUD Blambangan. Bangunan tersebut pernah difungsikan sebagai tempat medical check up (MCU) bagi calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Setelah layanan MCU dipindahkan ke fasilitas lain seperti Mall Pelayanan Publik, gedung tersebut sempat kosong sebelum akhirnya dimanfaatkan kembali sebagai pusat manajemen rumah sakit.

Kisah Unik di Balik Bangunan Tua

Penggunaan kembali bangunan bersejarah tersebut sempat menghadapi kendala teknis. Faktor usia bangunan yang sudah tua dan lama tidak digunakan disebut menjadi tantangan tersendiri.

Bahkan, sempat muncul cerita unik terkait gangguan non-teknis yang dialami saat awal pemanfaatan kembali gedung tersebut.

Namun, seiring waktu, bangunan tersebut kini dapat digunakan secara optimal setelah dilakukan penyesuaian dan perawatan.

“Secara fisik masih sangat layak. Kami hanya melakukan pengecatan dan penyesuaian kecil. Struktur utama tetap asli,” ungkap Aisyah.

Siap Berkembang Tanpa Tinggalkan Sejarah

Ke depan, RSUD Blambangan berkomitmen untuk terus berkembang dengan tetap menjaga nilai historis bangunan yang ada. Dengan luas lahan sekitar 25.000 meter persegi, rumah sakit ini masih memiliki peluang besar untuk ekspansi.

Beberapa kebutuhan yang masih menjadi perhatian antara lain penambahan ruang rawat inap, kelengkapan poli, serta perluasan area parkir.

“Kami berencana mengembangkan ke sisi barat rumah sakit, termasuk membangun gedung khusus poli. Dengan begitu, sejarah tetap terjaga, tetapi pelayanan kepada masyarakat juga semakin optimal,” pungkas Aisyah.

Transformasi RSUD Blambangan menjadi bukti bahwa modernisasi layanan kesehatan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian sejarah, menghadirkan fasilitas yang tidak hanya lengkap, tetapi juga sarat nilai perjalanan panjang daerah. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#sejarah rumah sakit Banyuwangi #RS tipe B Banyuwangi #bangunan bersejarah RS #layanan kesehatan Banyuwangi #rsud blambangan