RADARBANYUWANGI.ID – Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai diantisipasi serius oleh Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi. Sejumlah strategi disiapkan untuk menjaga produktivitas sektor pertanian di wilayah Banyuwangi.
Kepala Dispertan Banyuwangi, Danang Hartanto, menegaskan bahwa langkah antisipasi difokuskan pada ketersediaan air serta penyesuaian pola tanam petani. Hal ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko kerugian akibat musim kemarau panjang.
“Penanganan kita fokus pada air dan pola tanam. Ini harus dilakukan sejak awal agar petani tetap bisa berproduksi meski terjadi kekeringan,” ujarnya.
Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah pembangunan sedikitnya 100 sumur pertanian sebagai cadangan sumber air. Sumur tersebut akan dimanfaatkan ketika debit air irigasi mengalami penurunan signifikan saat kemarau.
“Kita siapkan sumur sebagai cadangan. Ini penting agar petani tetap bisa mengairi lahannya meskipun suplai air utama berkurang saat musim kemarau,” jelas Danang.
Selain pembangunan sumur, Dispertan juga melakukan pemetaan sumber air secara intensif dengan melibatkan instansi terkait. Langkah ini bertujuan untuk menghitung ketersediaan debit air dan menentukan luas lahan yang masih dapat terairi.
“Kita petakan berapa debit air yang tersedia sehingga kita tahu berapa luas lahan yang masih bisa terairi. Ini penting agar tidak terjadi rebutan air di tingkat petani,” tegasnya.
Upaya lain yang dilakukan adalah mendorong petani untuk menyesuaikan pola tanam. Jika kondisi air tidak mencukupi, petani diarahkan untuk tidak memaksakan menanam padi, melainkan beralih ke komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan.
“Tidak harus padi terus. Kalau kondisi air tidak memungkinkan, petani harus mulai beralih ke tanaman yang lebih tahan kekeringan seperti jagung,” imbuhnya.
Kebijakan ini rencananya diterapkan pada lahan baku sawah seluas sekitar 665 hektare. Lahan tersebut diproyeksikan dapat dimanfaatkan untuk tanaman alternatif selama musim kemarau guna menjaga produktivitas pertanian.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah juga menyalurkan bantuan benih jagung kepada petani. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban biaya awal sekaligus mendorong percepatan adaptasi pola tanam.
Di sisi lain, ketersediaan pupuk subsidi juga menjadi perhatian serius. Hingga Maret 2026, serapan pupuk di Banyuwangi masih dalam kondisi relatif aman. Pupuk jenis NPK mencatat realisasi tertinggi sebesar 36,48 persen, disusul Urea 30,08 persen, ZA 27,14 persen, dan pupuk organik 15,48 persen.
Menurut Danang, angka tersebut masih tergolong wajar karena distribusi pupuk subsidi dilakukan secara bertahap sepanjang tahun anggaran.
“Serapan ini masih tergolong baik. Dalam satu tahun penyaluran pupuk subsidi terbagi dalam beberapa tahap, sehingga pada triwulan pertama memang belum maksimal,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispertan Banyuwangi, Ida Larasati, menambahkan bahwa penyaluran pupuk telah dirancang melalui sistem Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK).
Melalui sistem tersebut, distribusi pupuk subsidi dapat lebih tepat sasaran kepada petani yang telah terdaftar sebelumnya.
“Sasaran pupuk subsidi sudah direncanakan sejak tahun sebelumnya melalui E-RDKK,” pungkasnya.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, Pemkab Banyuwangi berharap sektor pertanian tetap mampu bertahan menghadapi ancaman kekeringan, sekaligus menjaga stabilitas produksi pangan di daerah. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin