RADARBANYUWANGI.ID – Kelangkaan gas elpiji tabung 3 kilogram (kg) atau yang dikenal sebagai gas melon masih terjadi di wilayah Kecamatan Muncar hingga Selasa (7/4/2026).
Kondisi ini telah berlangsung sejak menjelang Lebaran dan belum menunjukkan tanda-tanda normalisasi.
Diduga, lonjakan kebutuhan masyarakat menjadi faktor utama yang memicu terbatasnya ketersediaan elpiji bersubsidi tersebut di pasaran.
Toko Kelontong Banyak Kehabisan Stok
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah toko kelontong di wilayah Muncar tampak kehabisan stok gas elpiji 3 kg.
Para pedagang hanya memajang tabung kosong di depan toko sebagai penanda bahwa barang sedang tidak tersedia.
Salah satu pemilik toko di Desa Keduangrejo, Kecamatan Muncar, Rahmi mengaku kondisi ini sudah terjadi sejak momen Lebaran.
“Selalu kehabisan stok, jadi hanya memasang tabung gas kosong di depan warung,” ujarnya.
Menurut Rahmi, distribusi elpiji dari agen sangat terbatas. Dalam sepekan, dirinya hanya menerima pasokan sebanyak tiga kali, dengan jumlah yang minim.
“Setiap kiriman hanya dapat dua sampai tiga tabung. Jadi cepat habis,” jelasnya.
Warga Harus Keliling Cari Gas
Akibat kelangkaan tersebut, warga terpaksa berkeliling dari satu toko ke toko lain untuk mendapatkan gas elpiji. Bahkan, tidak sedikit yang harus keluar dari wilayah Muncar untuk mencari stok.
Beberapa warga diketahui mencari elpiji hingga ke wilayah Tegaldlimo demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Orang-orang juga masih sulit mencari tabung gas, karena banyak toko yang kehabisan jatah,” tambah Rahmi.
Kondisi ini tentu menyulitkan masyarakat, terutama kalangan rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada elpiji subsidi untuk aktivitas sehari-hari.
Agen Sebut Stok Normal, Permintaan Meningkat
Di sisi lain, agen elpiji di wilayah Muncar menyebut pasokan sebenarnya dalam kondisi normal. Namun, lonjakan kebutuhan masyarakat menyebabkan distribusi tidak mampu memenuhi permintaan.
Salah satu agen elpiji setempat, Ocik, mengatakan bahwa peningkatan konsumsi pasca-Lebaran menjadi penyebab utama kelangkaan di tingkat pengecer.
“Stok sebenarnya aman, tapi kebutuhan masyarakat meningkat, jadi terasa langka,” ujarnya.
Perlu Evaluasi Distribusi
Kondisi ini memunculkan harapan agar pihak terkait segera melakukan evaluasi distribusi elpiji subsidi, terutama di daerah dengan lonjakan permintaan tinggi.
Selain itu, pengawasan penyaluran juga dinilai penting agar distribusi tepat sasaran dan tidak terjadi penimbunan di tingkat tertentu.
Kelangkaan gas elpiji 3 kg yang berkepanjangan dikhawatirkan dapat mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat kecil serta kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah strategis agar pasokan kembali normal dan masyarakat tidak terus kesulitan mendapatkan energi bersubsidi tersebut. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin