RADARBANYUWANGI.ID – Warga Dusun Krajan, Desa Gentengwetan, Kecamatan Genteng, mengaku resah dengan kemunculan sejumlah pengamen yang diduga anak punk pendatang di sekitar lampu lalu lintas (traffic light) Jalan Gajah Mada.
Keberadaan mereka dinilai mengganggu kenyamanan pengguna jalan karena sering meminta uang saat lampu merah menyala. Bahkan, beberapa di antaranya disebut masih berada di tengah jalan ketika lampu hijau sudah menyala, sehingga memicu kemacetan dan membahayakan keselamatan lalu lintas.
Keluhan warga ini mencuat dalam beberapa hari terakhir, seiring semakin seringnya para pengamen bertubuh penuh tato itu terlihat di simpang tiga traffic light kawasan tersebut.
Salah seorang warga, Mashud, 39, asal Desa Setail, Kecamatan Genteng, mengaku pernah berpapasan langsung dengan para pengamen tersebut saat melintas.
Menurutnya, para pengamen sering berdiri di area simpang jalan sambil meminta uang kepada pengendara roda dua maupun roda empat.
“Sampai diklakson-klakson oleh kendaraan, karena sudah lampu hijau tapi tidak minggir,” ujarnya.
Diduga Pendatang dari Luar Daerah
Mashud menduga, para pengamen tersebut bukan warga setempat, melainkan pendatang dari luar daerah.
Ia menyebut rata-rata mereka masih berusia muda, berkisar 20 hingga 25 tahun, dengan penampilan khas anak punk, mulai dari pakaian lusuh hingga tubuh yang dipenuhi tato.
“Wajah para pengamen itu asing dan badan penuh dengan tato,” katanya.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Selain dianggap mengganggu lalu lintas, warga juga cemas jika keberadaan mereka berpotensi memicu gangguan keamanan.
“Kami khawatir pengamen itu melakukan tindakan kriminal. Selain itu juga mengganggu,” tambah Mashud.
Pengendara Mengeluh Kebisingan
Tidak hanya soal keselamatan di jalan, warga juga mengeluhkan cara para pengamen meminta uang yang dianggap mengganggu.
Menurut Mashud, ketika pengguna jalan tidak memberikan uang, para pengamen justru menyanyi dengan suara lebih keras.
Alih-alih menghibur, aksi tersebut justru dinilai menambah kebisingan di area persimpangan.
“Kalau tidak diberi uang, mereka menyanyi semakin keras. Suaranya pun juga tidak enak didengar. Mereka tidak menjual suara, malah menambah kebisingan,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah pengguna jalan yang rutin melintas di kawasan Genteng kota.
Mereka berharap ada tindakan cepat agar situasi di traffic light kembali tertib dan nyaman.
Warga Minta Segera Ditertibkan
Warga berharap para pengamen dan anak punk tersebut segera ditertibkan agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan.
Selain aspek kenyamanan, masyarakat juga menyoroti faktor keselamatan karena para pengamen kerap berdiri di jalur kendaraan saat lampu berubah hijau.
Situasi ini dinilai rawan memicu kecelakaan, terutama pada jam-jam sibuk.
“Kami berharap segera ada penertiban supaya masyarakat tidak terus merasa resah,” ujar salah seorang warga sekitar.
Satpol PP Akui Sudah Sering Patroli
Sementara itu, Koordinator Satpol PP BKO V Genteng, Masruri, mengatakan pihaknya sebenarnya sudah beberapa kali melakukan patroli dan penertiban di kawasan tersebut.
Namun, para anak punk dan pengamen itu disebut sering berpindah tempat dan bersembunyi saat petugas datang.
“Terkadang saat kami cari anak-anak itu pergi dan bersembunyi, selain itu mereka juga pendatang,” ujarnya.
Masruri memastikan patroli akan terus dilakukan, terutama di titik-titik keramaian dan persimpangan jalan utama.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika menemukan aktivitas yang dianggap mengganggu ketertiban umum.
Dengan adanya patroli rutin, diharapkan keberadaan pengamen liar dan anak punk di traffic light Jalan Gajah Mada bisa segera ditangani. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin