RADARBANYUWANGI.ID – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (kg) atau yang dikenal sebagai gas melon masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Banyuwangi.
Tidak hanya sulit didapat, harga di tingkat pengecer juga mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Di berbagai toko kelontong, stok LPG 3 kg tampak kosong. Jika pun tersedia, jumlahnya sangat terbatas dan langsung habis diserbu pembeli.
Kondisi ini memicu kenaikan harga dari sebelumnya sekitar Rp 20 ribu per tabung menjadi Rp 23 ribu hingga Rp 25 ribu.
Bahkan, di wilayah Kecamatan Licin, harga gas melon sempat menyentuh angka Rp 40 ribu per tabung pada pekan lalu.
Lonjakan ini menjadi beban tambahan bagi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada LPG untuk operasional harian.
Salah satu pemilik toko, Nur, mengaku kesulitan mendapatkan pasokan LPG dari distributor. Ia menyebut jumlah kiriman yang diterima jauh berkurang dibanding biasanya.
“Sekarang kiriman dibatasi. Pengiriman pertama hanya tujuh tabung, berikutnya sepuluh tabung. Padahal biasanya bisa lebih banyak. Jadi cepat habis karena banyak yang cari,” ujarnya saat ditemui di Toko 99, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah.
Menurut Nur, kondisi ini sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Banyak pelanggan yang harus antre, bahkan tidak sedikit yang pulang dengan tangan kosong karena kehabisan stok.
“Sekarang yang kosong saja sudah banyak yang inden. Jadi begitu barang datang langsung habis. Kami berharap distribusi bisa kembali normal,” ungkapnya.
Kelangkaan LPG 3 kg juga dirasakan pelaku usaha kecil. Salah satunya Mariyam, pemilik warung nasi di wilayah Penataban, Kecamatan Giri. Ia mengaku kesulitan menjalankan usahanya akibat terbatasnya pasokan gas.
“Kalau gas susah, kami juga bingung. Soalnya tiap hari butuh untuk masak. Sekarang selain susah dicari, harganya juga naik,” keluhnya.
Menurut Mariyam, meningkatnya kebutuhan masyarakat tidak diimbangi dengan ketersediaan stok di lapangan.
Hal ini memaksa pelaku usaha mencari gas hingga ke wilayah lain dengan harga yang lebih tinggi.
Kondisi serupa juga dialami pemilik warung pracangan di wilayah Boyolangu, Kecamatan Giri. Ia mengaku sudah tidak menerima kiriman gas sejak sebelum Lebaran.
Biasanya, ia mendapatkan jatah hingga 24 tabung. Namun belakangan, jumlah tersebut menyusut drastis. Pada pengiriman terakhir, ia hanya menerima tujuh tabung, kemudian sepuluh tabung di pengiriman berikutnya.
“Karena langka, harga gas melon yang semula Rp 18.500 naik menjadi Rp 25 ribu ke atas,” ujarnya.
Kelangkaan LPG subsidi ini tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.
Terutama bagi pelaku usaha mikro yang sangat bergantung pada ketersediaan gas untuk produksi.
Masyarakat berharap ada langkah cepat dari pihak terkait untuk menstabilkan distribusi dan harga LPG 3 kg di pasaran.
Ketersediaan stok yang memadai dinilai menjadi kunci agar kebutuhan harian tetap terpenuhi tanpa membebani ekonomi warga.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga akan terus merangkak naik dan semakin memberatkan masyarakat kecil.
Oleh karena itu, intervensi dan pengawasan distribusi dinilai mendesak untuk segera dilakukan. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin