RADARBANYUWANGI.ID – Hujan deras yang mengguyur wilayah Banyuwangi pada Kamis malam (26/3) menyebabkan sejumlah ruas jalan di kawasan kota tergenang.
Genangan air sempat memicu kemacetan karena banyak kendaraan terjebak di titik-titik yang terdampak.
Peristiwa ini terjadi di tengah peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika terkait potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda wilayah Jawa Timur, termasuk Banyuwangi, hingga awal April mendatang.
Hujan yang turun dengan intensitas tinggi disertai petir dan angin kencang membuat aktivitas warga sempat terganggu.
Beberapa pengendara terpaksa memperlambat laju kendaraan akibat genangan air yang menutup badan jalan.
Beruntung, genangan tidak berlangsung lama. Setelah hujan mereda, air dengan cepat surut.
Potensi Hujan Lebat Masih Berlanjut
Berdasarkan data dari BMKG Banyuwangi, kondisi cuaca di wilayah Bumi Blambangan masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas bervariasi dalam beberapa hari ke depan.
Prakirawan BMKG Banyuwangi, Ibnu Aryo, menyampaikan bahwa sejak Jumat (27/3) hingga Minggu (29/3), hujan diperkirakan turun mulai dari intensitas sedang hingga lebat, bahkan berpotensi disertai petir.
“Di wilayah Banyuwangi hingga tiga hari ke depan diprediksi diguyur hujan dengan intensitas berbeda, dari sedang hingga lebat disertai petir,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terutama di wilayah rawan seperti daerah perbukitan, lereng gunung, serta kawasan dengan sistem drainase yang kurang optimal.
Waspadai Bencana Hidrometeorologi
Kepala BMKG Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan, dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa dalam 10 hari ke depan hingga Sabtu (4/4), terdapat peningkatan signifikan potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Timur.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga angin kencang.
“Sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk Banyuwangi, berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Kondisi ini perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi,” jelasnya.
Dipicu Faktor Atmosfer Global dan Regional
Lebih lanjut, Taufiq mengungkapkan bahwa fenomena cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor atmosfer global dan regional.
Di antaranya adalah aktivitas gelombang atmosfer seperti Gelombang Rossby dan Gelombang Kelvin yang melintasi wilayah Jawa Timur.
Selain itu, suhu muka laut yang hangat di sekitar perairan, termasuk Selat Madura, turut meningkatkan penguapan yang memicu pembentukan awan hujan.
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah keberadaan Siklon Tropis Narelle di Samudera Hindia bagian barat Australia.
Meski tidak berdampak langsung, siklon tersebut memberikan efek tidak langsung terhadap dinamika cuaca di Indonesia.
“Kondisi atmosfer yang labil turut memperkuat pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan lebat dalam waktu singkat,” imbuhnya.
Peralihan Musim Picu Cuaca Ekstrem
BMKG juga menyoroti bahwa masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau atau pancaroba menjadi salah satu pemicu munculnya cuaca ekstrem secara tiba-tiba.
Pada periode ini, perubahan cuaca cenderung berlangsung cepat dan bersifat lokal, sehingga sulit diprediksi secara detail di setiap wilayah.
Imbauan untuk Masyarakat
Dengan kondisi tersebut, masyarakat Banyuwangi diimbau untuk tetap waspada, khususnya saat beraktivitas di luar rumah.
Pengendara diminta berhati-hati terhadap genangan air yang dapat menyebabkan kecelakaan maupun kemacetan.
Selain itu, warga yang tinggal di daerah rawan longsor dan banjir diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan serta memantau informasi cuaca terkini dari BMKG.
Cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlangsung hingga awal April ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi dini untuk meminimalkan risiko bencana di wilayah Bumi Blambangan. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin