Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Buru Pelaku Rudapaksa di Kalibaru Banyuwangi, Polisi Terjunkan Anjing Pelacak, Kades Kalibarumanis Bantah Rumor Kebijakan Lockdown untuk Warganya

Salis Ali Muhyidin • Senin, 18 November 2024 | 20:19 WIB
Anjing pelacak diturunkan di lokasi penemuan jenazah korban rudapaksa di Desa Kalibarumanis, Kecamatan Kalibaru pada Sabtu (16/11).
Anjing pelacak diturunkan di lokasi penemuan jenazah korban rudapaksa di Desa Kalibarumanis, Kecamatan Kalibaru pada Sabtu (16/11).

RadarBanyuwangi.id - Memasuki hari kelima penyelidikan, pelaku kekerasan seksual yang menewaskan DC di Kalibaru belum juga terkuak. Aparat kepolisian masih terus bekerja keras untuk mengungkap pelaku keji dan biadab tersebut.

Untuk membantu kelancaran pengungkapan, Polresta Banyuwangi menerjunkan unit K-9 alias anjing pelacak sejak Sabtu (16/11).

Begitu diturunkan dari mobil, anjing pelacak mengendus jejak pelaku di kebun sengon. Semua gerak-gerik anjing diikuti sang pawang yang memegang ujung tali untuk mengendalikan pergerakan anjing.

Pengerahan K-9 dipimpin Kasat Samapta Polresta Banyuwangi AKP Basori Alwi didampingi Kapolsek Kalibaru Iptu Yaman Adinata.

Pengerahan aniing pelacak tersebut untuk menuruti permintaan Ahmad, 35, ayah DC saat bertemu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi, Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rama Samtama Putra, dan Plt Bupati Banyuwangi Sugirah pada Jumat lalu (15/11).

”Saya minta polisi menurunkan K-9 (anjing pelacak) untuk mendeteksi siapa pelakunya,” pinta Ahmad kala itu.

Anjing pelacak yang diterjunkan di kebun sengon terlihat mengelilingi di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) yang sudah dipasangi garis polisi.

Sejumlah anggota mengikuti ke arah anjing itu bergerak. Sementara anggota lain, memantau dari kejauhan sambil melakukan penyelidikan. Sungai kecil di lokasi penemuan sepeda kayuh milik korban juga dilalui anjing pelacak itu.

”Kami coba akomodasi permintaan keluarga korban untuk mendatangkan tim K-9 ke TKP. Apakah masih memungkinkan dua hari setelah peristiwa itu karena satu hari turun hujan di sekitaran TKP,” kata Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rama Samtama Putra.

Rama menyebut, hasil penyelidikan oleh tim olah TKP dan Inafis sebenarnya sudah cukup. Selama ini, tim bekerja lewat metode scientific investigation.

”Secara scientific investigation, seluruh hasil olah TKP barang bukti sudah kita bawa ke labfor. Termasuk melakukan otopsi terhadap korban,” tambahnya.

Sementara itu, selama polisi melakukan penyelidikan, muncul sejumlah rumor terkait kasus yang menyita perhatian banyak orang itu.

Kabar yang beredar menyebutkan, pelaku rudapaksa adalah tetangga korban. Kabar tersebut tersebar di platform WhatsApp (WA),

”Soal VC (voice note) yang menyebar di WA bahwa pelaku adalah tetangga korban, sudah ada klarifikasinya. Itu hoaks, orang yang menyebar (bernama Hasim, 56) sudah membuat klarifikasi,” ungkap Kepala Desa (Kades) Kalibarumanis Adrian Bayu Donata.

Kabar hoaks lainnya adalah pemberlakuan aturan lockdown kepada warga di sekitar TKP supaya tidak keluar dari wilayah desa. Kabar tersebut juga dibantah oleh Kades Adrian.

”Tidak ada aturan seperti itu (lockdown). Kami serahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian, tidak ada larangan warga keluar desa,” sebutnya.

Diberitakan sebelumnya, Polresta Banyuwangi bekerja keras untuk mengusut pelaku kekerasan seksual yang menimpa DC, bocah berusia 7 tahun di Kalibaru. Siang malam anggota Reskrim menyelidiki kasus ini untuk mengungkap tindakan biadab pelaku.

Sampai saat ini Polresta sudah memeriksa 10 saksi. Selain itu, sejumlah BB juga turut diamankan, salah satunya permen yang ditemukan di dekat korban saat kejadian.

Rama menyebut, 10 saksi yang sudah diperiksa terdiri dari unsur warga sekitar, pihak sekolah, dan keluarga.

DC yang tinggal di sebuah desa di Kecamatan Kalibaru itu ditemukan meregang nyawa di kebun sengon tidak jauh dari rumahnya pada Rabu (13/11).

Pelajar kelas 1 salah satu madrasah ibtidaiyah (MI) itu diduga menjadi korban perkosaan. Korban kali pertama ditemukan di kebun sengon oleh ibu kandungnya, Siti, 35, yang kini sedang hamil tua.

Biasanya korban pulang sekolah dengan naik sepeda kayuh sampai rumah sekitar pukul 10.15. Karena hingga siang tidak kunjung pulang, ibu korban menghubungi pihak sekolah. Ibunya sempat bingung karena anaknya belum sampai di rumah. (sas/abi/c1)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Kalibarumanis #polisi #anjing pelacak #pelaku #Lockdown #rudapaksa #kalibaru #banyuwangi