Buktinya, kuota maksimal 50 pasien yang dilayani per hari selalu penuh. Selain dikenal mujarab, pengobatan ini digelar tanpa tarif. Pasien yang mendapat pengobatan hanya perlu memberi angpao seikhlasnya.
Pengasuh Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi Kadapi Kadiso mengatakan, safari pengobatan terapi anmo dari Tiongkok ini digelar untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. ”Masyarakat kadang ingin berobat, tetapi terhambat oleh biaya,” ujarnya.
Kadapi mengatakan, safari pengobatan bersama Sinshe Acong ini terbuka untuk umum. Masyarakat yang ingin berobat bisa langsung mendaftar di Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo. Pengobatan ini akan digelar sampai Sabtu (16/11).
Pengobatan ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 17.00. Namun, karena banyak pasien yang datang dan waktu yang dibutuhkan untuk menangani pasien berkisar antara 20 menit sampai satu jam per orang, pengobatan bisa dibuka sampai pukul 22.00.
Sinshe Acong melayani berbagai penyakit mata antara lain katarak, rabun jauh, rabun dekat, silinder, kerusakan mata akibat radiasi, dan gagal operasi karena katarak. Selain itu, Sinshe Acong juga dapat menyembuhkan penyakit telinga seperti kurangnya pendengaran dan telinga berdengung. Juga melayani penyakit saraf dan persendian seperti saraf kejepit, sakit pada bahu, leher, lutut, kaki, dan lain-lain. Akan tetapi tidak melayani penyakit stroke dan parkinson.
Acong mengatakan, bagi warga yang ingin mendapat pelayanan pengobatan bisa melakukan pendaftaran secara langsung di lokasi, yakni di Masjid Haji Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi atau menghubungi 081361711062.
Sementara itu, di hari ketiga kemarin ada beberapa pasien yang sudah mendapat pengobatan pada hari pertama (Senin), kembali datang untuk menjalani pengobatan lanjutan. Mereka sengaja datang jeda satu hari setelah mendapat pengobatan pertama. Sebab, pasien yang sudah mengikuti terapi badannya memang harus diistirahatkan selama satu hari. ”Tadi (kemarin) ada beberapa yang kembali ke sini, yang rata-rata terjadi gangguan pada matanya,” ujar Acong
Pengobatan Sinshe Acong menggunakan tenaga dalam yang dia dapat melalui pendekatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya menggunakan kuas yang digerakkan dan diarahkan ke pasien. ”Seperti media kuas yang saya gunakan, alat ini hanya perantara penyaluran energi spiritual ke pasien untuk pengobatan,” ungkap Acong.
Acong menjelaskan, Selain menggunakan media kuas, dirinya juga menggunakan daun sirih sebagai media pengobatan. Sebab, daun sirih merupakan daun dengan kasta paling tinggi sehingga mempermudah untuk meminta kesembuhan kepada Yang Maha Kuasa. ”Menempelkan daun sirih ke titik yang terasa sakit, lalu berdoa kepada Sang Pencipta agar lekas diberi kesembuhan,” jelasnya.
Acong berharap, ke depannya dia terus bisa mengobati masyarakat yang membutuhkan dengan pengobatan tradisional yang murah, tapi tidak murahan. ”Saya akan keliling ke beberapa Masjid Cheng Hoo se-Indonesia, seperti yang berada di Batam, Kalimantan, dan Sulawesi. Selain itu, saya juga akan keliling ke kelenteng dan gereja,” akunya.
Dengan pengobatan tradisional ini, banyak yang sudah merasakan perubahan setelah diterapi. Memang tidak bisa langsung sembuh total, tetapi secara bertahap. Seperti penyakit katarak, proses pengobatannya dilakukan dua atau tiga kali sampai sembuh. ”Tergantung pada penyakitnya, ketika ringan maka proses penyembuhannya cepat,” kata Acong.
Siswanto, salah satu pasien mengatakan, sebelum mengikuti pengobatan kaki dan tangannya sering kesemutan. Dia juga kerap merasakan nyeri di pergelangan tangan dan kaki. Sebelumnya dia juga tidak bisa mengangkat kedua tangan sehingga kesulitan mengambil sesuatu yang berada di atasnya. ”Setelah mengikuti pengobatan sekarang saya sudah bisa mengangkat tangan. Semoga ke depan bisa lebih sehat,” ujar pria berusia 51 tahun asal Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi tersebut.
Pasien lain, Junaito, 75, warga Kelurahan Sobo, mengaku menderita gangguan pendengaran. Ketika mendengar suara yang keras, telinganya berdengung. ”Namanya orang tua, pasti fungsi dari anggota badan banyak yang berkurang. Tapi harus tetap berusaha untuk sehat. Setelah diobati Sinshe Acong lebih enak dari sebelumnya,” ungkapnya.
Pasien lainnya, Bambang mengatakan bahwa dia mempunyai riwayat penyakit asam lambung. Dia sering merasa seperti orang masuk angin dan nyeri pada perut. ”Usai terapi saya merasa lebih mendingan dari sebelumnya. Semoga ke depannya bisa sembuh total,” kata pria berusia 68 tahun asal Kelurahan Sobo itu.
Hal senada dilontarkan Nurhayati, warga kelurahan Kebalenan. Dia mengaku mengalami saraf terjepit dan leher terasa kaku lantaran sering bermain handphone sembari tiduran. ”Sekarang sudah lebih enakan dan lebih enteng,” kata perempuan berusia 59 tahun tersebut. (cw3/sgt/c1)
Editor : Sigit Hariyadi