Salah seorang pedagang yang enggan disebut namanya menuturkan, sejak Selasa (13/8) dia kembali berjualan di Jalan Diponegoro.
Pedagang yang sudah lanjut usia itu mengaku hanya ikut-ikutan dengan pedagang lainnya. ”Saya ikut saja, di dalam area relokasi Gedung Wanita sepi,” ujar pedagang bumbu dapur itu.
Ketua PKL Joko Tole, Agus Kariyanto mengatakan, para pedagang kembali berjualan di Jalan Diponegoro karena di tempat relokasi sepi pembeli.
Agus menyebut, sebanyak 60 PKL gulung tikar setelah dua bulan berjualan di tempat relokasi. ”Awalnya 200 PKL yang jualan di tempat relokasi, sekarang tinggal 140. Sisanya gulung tikar, ada yang merantau ke Jakarta dan pulang ke Madura,” ungkapnya.
Selama ini pihaknya sudah patuh dengan aturan dari Pemkab Banyuwangi. Para PKL di bawah naungan Joko Tole bersedia diajak pindah ke tempat relokasi karena pasar akan direvitalisasi.
Ternyata rencana revitalisasi molor. Dari awalnya ditargetkan bulan Juli, sampai Agustus ini masih tak kunjung digarap.
”Kabarnya sudah ada pemenang lelang, tapi saya cek ternyata belum. Proyek pasar baru mau dilelang lagi akhir Agustus, lalu mulai revitalisasi kapan?” ungkap Agus.
Dia mengatakan, para PKL hanya berdagang sembari menunggu proyek revitalisasi dimulai. Dia berharap PKL tak perlu diusir dari Jalan Diponegoro apalagi sampai menggunakan pendekatan yang memaksa. ”Kalau nanti proyek dimulai, kami akan kembali lagi. Jadi tidak usah diusir,” pinta Agus.
Sekkab Banyuwangi Mujiono mengatakan, pelaksanaan revitalisasi Pasar Banyuwangi menggunakan anggaran APBN yang dikerjakan oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur.
Menurutnya, dalam waktu lima belas hari (sejak tanggal 14 Agustus) akan ada penetapan pemenang. ”Ini sesuai mekanisme pengadaan barang dan jasa. Selama menunggu, kami minta teman-teman pedagang tetap berjualan di tempat relokasi,” kata Mujiono.
Terkait adanya beberapa pedagang yang kembali ke Jalan Diponegoro, pemkab sudah berupaya melakukan pembicaraan melalui asisten pemerintahan. Tujuannya agar pedagang mau kembali ke tempat relokasi.
Pihaknya khawatir jika ada pedagang yang masih bertahan di lokasi pasar akhirnya malah menghambat proses revitalisasi.
”Jangan sampai gara-gara hal sepele proyek revitalisasi senilai Rp 200 miliar gagal. Kami sudah meminta kepada BPPW untuk mempercepat revitalisasi Inggrisan dan pasar,” pungkasnya. (fre/aif/c1)
Editor : Niklaas Andries