RadarBanyuwangi.id - Gunung Ijen, yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengalami peningkatan aktivitas yang signifikan.
Sejak awal tahun 2024 hingga pertengahan Juli, gunung ini menunjukkan tanda-tanda aktivitas vulkanik.
Erupsi Gunung Ijen yang tercatat sejak tahun 1900 umumnya berupa letusan freatik dari danau kawah.
Pada tahun 1993, erupsi freatik menghasilkan kolom asap hitam setinggi 1000 meter.
Aktivitas serupa terjadi pada tahun 2011-2012 dan 2017-2018, dengan semburan gas CO2 yang menyusuri lembah Sungai Kali Pait hingga 7 kilometer.
Peningkatan terakhir terjadi pada 17 Januari 2020 dengan peningkatan gempa vulkanik dangkal.
Pada periode 1 Januari 2024 hingga 12 Juli 2024, gunung ini terpantau jelas hingga tertutup kabut.
Asap kawah terlihat berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga setinggi 300 meter dari puncak.
Pengukuran suhu air kawah pada 30 Juni 2024 menunjukkan suhu 34 derajat celcius.
Jumlah gempa vulkanik dangkal dan gempa vulkanik dalam cenderung menurun, namun gempa lainnya berfluktuasi normal.
Teramati 424 kali gempa hembusan, 12 kali tremor non-harmonik, 3 kali gempa tornillo, 8 kali gempa low frequency, 259 kali gempa vulkanik dangkal, 25 kali gempa vulkanik dalam, 45 kali gempa tektonik lokal, 4 kali gempa terasa, 294 kali gempa tektonik jauh, dan 192 kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 0,5-7 milimeter.
Peningkatan aktivitas di Kawah Ijen sering ditandai oleh perubahan warna air danau kawah dari hijau menjadi hijau keputih-putihan, akibat tekanan gas yang kuat dari dasar danau.
Kondisi meningkatnya aktivitas juga memunculkan gelembung-gelembung gas di permukaan air kawah.
Rekaman RSAM sejak awal 2023 menunjukkan pola fluktuatif dan cenderung meningkat.
Pada 12 Juli 2024, peningkatan energi signifikan teramati bersamaan dengan meningkatnya amplitudo tremor menerus.
Gempa tremor meningkat fluktuatif pada 12 Juli 2024 dengan amplitudo 5-25 mm dan mencapai >46 mm (overscale) pada malam harinya.
Bahaya utama yang ditimbulkan adalah gas vulkanik konsentrasi tinggi di sekitar kawah dan erupsi freatik yang dapat terjadi tanpa peringatan visual atau kegempaan.
Mengingat kondisi ini, tingkat aktivitas Gunung Ijen dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) mulai 12 Juli 2024 pukul 22.00 WIB.
Rekomendasi bagi masyarakat adalah menghindari area bibir kawah dan dasar kawah Ijen, tidak menginap di Kawah Ijen dalam radius 1,5 kilometer, dan selalu waspada terhadap aliran gas vulkanik yang berbahaya.
Jika tercium bau gas menyengat, disarankan menggunakan masker atau kain basah sebagai penutup pernapasan.
Pemerintah daerah, BPBD, dan BKSDA diimbau untuk terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Ijen dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi