RadarBanyuwangi.id – Pasar Wit-witan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh yang sempat popular dan tutup karena Covid-19, kini mulai menggeliat lagi.
Saat ini, lokasi tersebut masih menjadi pilihan sentra kuliner dan kudapan tradisional khas Banyuwangi.
Ratusan pengunjung setiap Minggu pagi berkunjung dan berbelanja di pasar yang “memanjakan perut” tersebut.
Berbagai makanan dan kudapan serta minuman tradisional khas Banyuwangi, tersaji dengan apik di bawah deretan puluhan gubuk dari bambu dan rindangnya pepohonan.
Penjaganya, para perempuan berbaju hitam dengan kebaya batik, pakaian khas daerah Banyuwangi.
“Alhamdulillah, setiap pekan di hari Minggu selalu ramai, tidak pernah sepi dari pengunjung,” ungkap Dewor, 45, salah seorang pemilik stand UMKM.
Setiap Minggu, Dewor bersama Suari, 48, suaminya harus bangun sebelum subuh karena harus membawa peralatan dapur ke lokasi Pasar Wit-witan yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya.
“Pembeli lebih senang jika makanan dan minuman yang disajikan itu masih fresh, jadi kami memilih memasak di lokasi, tapi ada beberapa yang sudah kami masak dari rumah,” cetusnya.
Hampir setiap pekan, Dewor bersama suaminya bisa mencari penghasilan tambahan untuk menyambung hidup. Selain dari penghasilan suaminya yang bekerja sebagai penjahit.
“Alhamdulillah, kalau penghasilan tambahan ada meski jumlahnya tidak tentu. Tapi tidak sampai setengah hari sudah bisa dapat dari Pasar Wit-witan ini,” katanya.
Salah seorang pembeli Imam Ashari dari Banyuwangi mengaku datang bersama keluarga untuk menyantap sarapan pagi bersama di Pasar Wit-witan.
“Saya berangkat pagi sekalian olahraga, langsung ke sini cari sarapan,” katanya.
Sarapan di Pasar Wit-witan ini, menurutnya dapat meningkatkan gairah nafsu makan. Apalagi, segala jenis macam masakan tradisional Banyuwangi ada dan tersedia.
“Dari makanan ringan (kudapan) hingga hidangan berat ada, mayoritas masakan lokal,” terangnya.
Makanan itu, jelas dia, seperti lupis, tiwul, gatot, pecel pitik (ayam) khas Banyuwangi, rawon, lanon (semacam lupis yang dibuat dari tepung beras warnanya hitam), botok (pepes) tawon, putu, es dawet, geseng bangong (itik jantan), dan segudang makanan lainnya.
“Berbagai jenis masakan tradisional tersebut sudah jarang ada di kawasan perkotaan,” sebutnya.
Makanan yang tersedia itu, jelas dia, makanan era zamannya masih kecil. Selain bernostalgia, suasananya juga bikin beda.
“Makannya di bawah pepohoonan rindang, dan suasana pagi dengan udara yang sejuk,” pungkasnya.(ddy/abi)
Editor : Salis Ali Muhyidin