Mereka datang ke rumah dinas Bupati Ipuk Fiestiandani itu untuk menghadiri event tahunan bertajuk ”Diaspora Banyuwangi”.
Bupati Ipuk Fiestiandani beserta sang suami, yakni Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Abdullah Azwar Anas hadir langsung dalam kegiatan tersebut.
Selain itu, hadir pula Menteri Pariwisata (Menpar) RI periode 2014–2019 Arief Yahya serta sejumlah pengurus Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) dari berbagai penjuru tanah air hingga luar negeri, termasuk Jepang dan Australia.
Acara yang dibalut dengan pentas budaya khas Bumi Blambangan itu melahirkan spirit bersama untuk memajukan kabupaten ujung timur Pulau Jawa.
Di antaranya untuk turut aktif memasarkan wisata di Banyuwangi.
Seperti diutarakan salah satu diaspora Banyuwangi yang berkiprah di Kota Perth, Australia, yakni Widi.
Menurut perempuan yang bekerja di bidang event organizer di Negeri Kanguru tersebut, pariwisata Banyuwangi sudah harus dipasarkan di level internasional.
Widi mengaku kerap menampilkan atraksi budaya asli Banyuwangi di Australia. Dia mengaku bahwa pertunjukan kesenian asli Banyuwangi tersebut mendapat sambutan yang hangat dari warga Australia.
”Ada tari-tarian atau pun lagu-lagu Banyuwangi yang kami tampilkan. Mereka senang melihatnya,” akunya.
Senada dengan Widi, Arief Yahya menyatakan bahwa wisata Banyuwangi harus terus dipacu ke level global. Dengan mendorong wisata, maka sektor lainnya akan terkerek.
”Tourism (wisata) itu bisa memicu terjadinya trade (perdagangan) dan investment (investasi). Jika ini terbentuk, akan melahirkan kesejahteraan,” paparnya.
Arief lantas mencontohkan pariwisata Bali. Ketika wisata di Pulau Dewata itu tumbuh, terjadi peningkatan komoditas perdagangan dan investasi di berbagai lini.”Hal tersebut menaikkan pendapatan per kapita penduduknya. Karena tourism ini people to people (orang ke orang),” imbuhnya.
Bupati Ipuk sangat mengapresiasi gagasan para diaspora untuk mengembangkan wisata Banyuwangi ke level global.
Menurutnya, pemkab telah berusaha keras untuk bisa bersaing di kancah internasional.
”Ada sejumlah pengakuan internasional yang telah berhasil diraih. Di antaranya Banyuwangi telah ditetapkan sebagai bagian UNESCO Global Geopark (UGG). Ini menahbiskan Banyuwangi di kancah dunia,” jelas Ipuk.
Bandara Internasional Banyuwangi juga telah mendapatkan penghargaan bidang arsitektur taraf internasional Aga Khan Award.
Ipuk juga memaparkan kemajuan wisata tersebut berbanding selaras dengan kesejahteraan masyarakat.
Pada 2023, produk domestik regional bruto (PDRB) Banyuwangi tercatat sebesar Rp 101,29 triliun. Hal ini meningkatkan pendapatan per kapita warga Banyuwangi menjadi Rp 58,08 juta per tahun.
”Alhamdulillah, ekonomi Banyuwangi naik 5,03 persen. Melebihi pertumbuhan Provinsi Jawa Timur. Angka kemiskinan juga turun menjadi 7,34 persen. Ini terendah sepanjang sejarah,” lanjutnya. (sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries