RadarBanyuwangi.id – Acara kesenian tradisional gugah sahur menggunakan kundaran di jalan simpang tiga Desa Benculuk, Kecamatan Cluirng, dibubarkan oleh anggota polsek setempat pada Minggu (31/3) dini hari.
Penyebabnya, dalam acara itu berubah menjadi arena tawuran.
Kericuhan yang melibatkan puluhan remaja itu, terjadi sekitar pukul 01.00. Kesenian untuk membangunkan sahur itu, awalnya berjalan tertib seperti biasa. Tapi tiba-tiba muncul kericuhan dan tawuran.
“Antar remaja yang ikut acara tawuran,” ungkap Kapolsek Cluring AKP Abdur Rohman.
Akibat aksi itu, jelas dia, jalan raya jurusan Banyuwangi-Jember itu sempat macet.
Karena dianggap mengganggu ketertiban mayarakat, polisi langsung turun dan membubarkan acara tersebut.
“Langsung kita ambil tindakan tegas, kita bubarkan, grup kundaran yang dari luar daerah kita minta untuk pulang,” tegasnya.
Dari informasi yang didapat Jawa Pos Radar Genteng, aksi kericuhan itu dipicu kesalahpahaman antar remaja yang mengikuti kundaran di jalan simpang tiga depan Masjid Al Falah Benculuk.
“Aksi kericuhan itu diduga dipicu remaja yang ikut acara itu tak mau diajak gantian menabuh,” jelasnya.
Belum lagi, lanjut dia, sejumlah remaja yang saling bersaing memukul alat musik kundaran saling joget dan memancing emosi.
Keributan akhirnya berlanjut di luar masjid, puluhan remaja beradu mulut. Tawuran antar remaja yang datang dari berbagai daerah di Kabupaten Banyuwangi itu tak terelakkan.
Baca Juga: Ada Keluhan Soal THR? Adukan di Posko Pengaduan THR: Seperti Ini Kondisinya Saat Ini
Situasi memanas, jalan raya dipenuhi ratusan remaja.
“Selama kegiatan itu positif dan aman, kami berikan ruang untuk berekspresi. Tapi begitu ada potensi ricuh yang mengarah pada tawuran, langsung kami bubarkan,” tegas Kapolsek.
Saat dibubarkan, oleh polisi seluruh remaja yang ada di lokasi diminta meninggalkan tempat, ini terutama grup kundaran yang dari luar daerah.
“Tidak ada korban maupun kerugian materil akibat bentrokan ini, situasi kembali kondusif dan tidak ada gejolak di masyarakat pasca peristiwa itu,” katanya.(ddy/abi)
Editor : Salis Ali Muhyidin