Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Banyuwangi Punya! Semarakkan Ramadan dengan Festival Patrol dan Kundaran

Sigit Hariyadi • Rabu, 27 Maret 2024 | 17:55 WIB
MENGHIBUR: Meski diguyur hujan, salah satu kelompok patrol tetap menyajikan penampilan terbaik kepada para penonton yang memadati area parkir Stadion Diponegoro pada Senin malam (25/3).
MENGHIBUR: Meski diguyur hujan, salah satu kelompok patrol tetap menyajikan penampilan terbaik kepada para penonton yang memadati area parkir Stadion Diponegoro pada Senin malam (25/3).

RadarBanyuwangi.id – Suasana malam di Banyuwangi pada bulan suci Ramadan 1445 Hijriah, tepatnya Senin (25/3) lalu, terasa spesial.

Betapa tidak, kali ini pemkab menggelar festival yang bersumber dari tradisi masyarakat Bumi Blambangan untuk mengisi malam di bulan puasa, yakni patrol dan kundaran alias kuntulan.

Kegiatan bertajuk ”Festival Budaya Ramadan 2024, Patrol dan Kundaran” tersebut dipusatkan di area parkir Stadion Diponegoro.

Bupati Ipuk Fiestiandani, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Mujiono, serta perwakilan anggota forum pimpinan daerah (Forpimda) dan sejumlah pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Banyuwangi hadir langsung dalam kegiatan tersebut.

Bupati Ipuk mengatakan, tradisi patrol telah lama menjadi bagian dari kekayaan budaya Banyuwangi.

”Kami berharap festival ini dapat memperkuat identitas lokal kita di tengah arus globalisasi,” ujarnya.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengabadikan penampilan peserta Festival Patrol dan Kundaran dengan memanfaatkan ponsel.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengabadikan penampilan peserta Festival Patrol dan Kundaran dengan memanfaatkan ponsel.

Patrol merupakan seni memainkan alat musik dari bambu. Musik ini biasanya dimainkan untuk membangunkan warga yang hendak sahur pada dini hari selama bulan Ramadan.

Seiring waktu, tradisi ini menjadi pertunjukan yang senantiasa dinantikan warga setiap bulan puasa.

Tak ayal, banyak warga yang ingin menyaksikan Festival Patrol dan Kundaran tersebut. Bahkan, hujan yang sempat mengguyur Kota Banyuwangi dan sekitarnya tidak menyurutkan antusiasme warga.

Mereka menyaksikan iring-iringan peserta festival di sepanjang rute patrol, yakni dari depan Stadion Diponegoro hingga ke Taman Blambangan. 

Menurut Ipuk, hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat Banyuwangi bersemangat dalam melestarikan dan mengembangkan budaya lokal, khususnya patrol dan kundaran.

”Semangat ini menjadi bukti masyarakat Banyuwangi terus mempertahankan dan mempromosikan warisan budaya lokal,” tuturnya.

Festival Budaya Ramadan melibatkan peserta dari 25 kecamatan. Setiap kecamatan mengirimkan video patrol dan kundaran sebagai bagian dari proses seleksi.

Sementara itu, lima tim terbaik berkompetisi di babak final. 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Taufiq Rahman menambahkan, kriteria penilaian patrol dan kundaran meliputi teknik atraksi, harmonisasi, penatar terbaik, tata busana terbaik, dan vokal terbaik.

”Untuk patrol penilaian juga didapatkan dari pawai yang dilakukan setelah penampilan,” ujarnya.

Dengan total 20 anggota dalam setiap kelompok kundaran dan 15 anggota dalam kelompok patrol, lanjut Taufiq, festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga perayaan.

”Festival ini diharapkan dapat menginspirasi dan memotivasi masyarakat, khususnya generasi muda untuk terus melestarikan dan mengembangkan budaya patrol dan kundaran sebagai bagian dari identitas Banyuwangi yang unik dan kaya,” pungkasnya. (sgt/c1)

Editor : Salis Ali Muhyidin
#festival #ramadan #banyuwangi