Pawai yang digelar untuk menyambut Hari Raya Nyepi itu start dan finis di lapangan Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran.
Ada 17 ogoh-ogoh berupa patung buto sebagai simbol angkara murka yang diarak keliling desa sepanjang 3 kilometer dengan iringan musik baleganjur.
”Ogoh ogoh ini dibawa keliling desa,” ungkap Hadi Santoso, 46, Romo Mangku Pura Sindhu Gangga Sidayu, Dusun Ringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran.
Romo Hadi menyebut, perayaan pawai ogoh-ogoh tahun ini lebih meriah dibanding tahun sebelumnya.
Tahun ini ada 17 ogoh-ogoh yang dibuat umat untuk diikutkan dalam pawai. ”Ogoh-ogoh itu dibuat oleh umat Hindu di beberapa pura yang ada di Kecamatan Pesanggaran,” jelasnya.
Di antara 17 ogoh-ogoh dalam pawai itu, ada satu yang menyita perhatian warga, yaitu patung tikus berdasi yang memanggul segepok uang pecahan Rp 100 ribu. Ogoh-ogoh tikus berdasi itu dilengkapi tulisan ”koruptor”.
”Ogoh-ogoh koruptor banyak mendapat perhatian warga,” jelas Romo Hadi.
Pawai ogoh-ogoh yang menampilkan berbagai karakter tersebut dimulai pukul 10.00.
Selain karakter koruptor, ada juga tokoh pewayangan, animasi, hingga buto sebagai perlambang angkara murka.
”Ogoh-ogoh hasil kreativitas masyarakat ini merupakan simbol dari sifat buruk yang harus disucikan,” terang Romo Hadi.
Selain sebagai simbol menghalau kejahatan, ogoh-ogoh kini juga dijadikan sebagai sarana kritik sosial.
Seperti halnya ogoh-ogoh koruptor, menurut Romo Hadi hal itu sebagai representasi maraknya kasus korupsi di Indonesia.
”Masalah korupsi masih belum bisa berantas,” ujarnya.
Hadi menyebut, pawai ogoh-ogoh kali ini dipusatkan di lapangan Desa Sumbermulyo.
Sekitar seribu umat Hindu di Kecamatan Pesanggaran berkumpul untuk mengikuti upacara Tawur Agung dengan khusyuk.
”Semua acara berlokasi di lapangan, umat mengikuti Tawur Agung,” kata Romo Hadi.
Belasan ogoh-ogoh itu diarak dengan cara dipikul oleh umat dengan melalui rute lapangan Desa Sumbermulyo dan finis di tempat yang sama.
”Selama perjalanan juga ada atraksi dengan digoyang atau digerakkan sambil diiringi musik baleganjur,” tandas Romo Hadi. (rei/abi/c1)
Editor : Niklaas Andries