Keelokan blue fire (api biru) menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Di balik itu semua, ada tradisi unik yang digelar oleh para pelaku wisata Ijen.
Sekitar 50 orang berkumpul di Ijen pada Sabtu (2/3) lalu. Mereka terdiri dari pelaku wisata, petugas BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), dan petugas resor Kawah Ijen. Beberapa wisatawan juga diajak bergabung.
Mereka berkumpul di sepanjang jalan dekat loket Paltuding sembari duduk lesehan saling berhadapan.
Beberapa orang tampak membawa tumpeng dan nasi untuk ditempatkan di hadapan mereka.
Sebelum menyantap hidangan, mereka menggelar doa bersama.
Mereka meminta keselamatan dan keberkahan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di TWA Kawah Ijen.
”Kita gelar selamatan bersama demi menjaga kerukunan dan meminta keselamatan dari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Kepala Resor 18 Kawah Ijen Sigit Haribowo.
Tradisi tersebut dilakukan para pelaku wisata untuk menjaga kerukunan dan kekompakan.
”Para pelaku wisata bukan hanya dari Kabupaten Banyuwangi, ada juga yang dari Kabupaten Bondowoso. Mereka kami kumpulkan untuk menjaga kekompakan,” kata Sigit.
Selamatan sudah menjadi tradisi bagi para pelaku wisata di TWA Ijen.
Hampir setiap bulan di minggu pertama, mereka menggelar acara makan bersama di jalan masuk TWA Kawah Ijen.
”Bukan hanya untuk menjaga kekompakan dan meminta keselamatan, tradisi seperti ini kita gelar sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Gunung Ijen masih tetap dalam kondisi aman dan jumlah wisatawan semakin meningkat,” ungkap Sigit.
Dikatakan Sigit, dalam kurun terakhir ini wisatawan yang berkunjung ke Ijen hampir mencapai 500 orang per hari. Banyaknya wisatawan membuat pelaku wisata semringah.
”Ya hampir 500-an lebih setiap harinya. Seperti tahun 2023, kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara tembus 15.000 orang,” ungkapnya.
Dengan tingkat kunjungan yang semakin meningkat tersebut, ekonomi wisata juga semakin terdongkrak.
”Semoga kunjungan wisatawan terus meningkat sehingga TWA Ijen makin dikenal di dunia,” tandas Sigit. (rio/aif/c1)
Editor : Niklaas Andries