RadarBanyuwangi.id – Ikan hasil tangkapan para nelayan di Banyuwangi cukup melimpah beberapa pekan terakhir. Imbasnya, harga ikan segar di pasaran anjlok.
Ikan tongkol misalnya, harganya turun dari Rp 18 ribu per kilogram (kg) menjadi Rp 9 ribu per kg.
Bahkan, harga beberapa jenis ikan lainnya sempat terjerembap menjadi ”hanya” Rp 4 ribu per kg.
Akibatnya, banyak yang nelayan mengeluh lantaran harga ikan tidak sepadan dengan biaya produksi yang harus mereka keluarkan.
Termasuk biaya bahan bakar kapal atau perahu yang digunakan untuk menangkap ikan.
Kepala Dinas Perikanan (Disperikan) Banyuwangi Alief Rahman Kartiono mengungkapkan, fenomena El Nino menjadi salah satu penyebab hasil tangkapan nelayan meningkat.
Khususnya di wilayah Muncar. Selain itu, konservasi juga mendorong ikan bermigrasi ke perairan di wilayah Banyuwangi.
Untuk mengatasi harga ikan yang anjlok, Alief mengaku berupaya mendorong nelayan melakukan diversifikasi usaha.
Ikan hasil tangkapan diolah menjadi produk makanan jadi yang bisa dijual ke end user langsung.
Intervensi tersebut diharapkan menyasar kelompok ibu rumah tangga yang merupakan istri nelayan.
”Kami mengarahkan ke diversifikasi produk untuk nelayan kecil. Terutama untuk kelompok perempuan sehingga ada multiplier effect. Tidak hanya meningkatkan harga jual, tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan,” ujarnya.
Alief menambahkan, upaya lain untuk lebih meningkatkan keuntungan nelayan adalah dengan memperluas pasar dan jejaring.
Selain itu, pemkab mendorong masyarakat gemar makan ikan sebagai salah satu upaya percepatan penanganan tengkes (stunting).
”Dalam rangka memperluas pasar dan jejaring, kita sudah kerja sama dengan Aruna. Tapi jenis ikan yang mereka butuhkan terbatas. Terutama pada ikan tongkol atau lainnya. Sedangkan untuk ikan lemuru, memang Muncar pusatnya, di situ banyak pabrik pengalengan ikan berskala besar yang produksnya sampai pasar mancanegara,” pungkas Alief. (tar/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin