TIBA-tiba saya teringat kawan lama. Indra Gunawan. Tokoh budaya. Namanya tidak hanya masyhur di desanya; Alas Malang, Kecamatan Singojuruh.
Tapi juga harum di Bumi Blambangan. Bahkan, di seantero nusantara.
Usianya belum begitu tua. Tapi jiwanya melebihi orang paling tua di desanya. Tidak banyak orang memiliki jiwa seperti dia.
Yakni, merelakan sepenuh hidupnya untuk kebudayaan. Yakni, salah satu warisan leluhur desanya: Kebo-keboan. Sebuah ritual adat di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh.
Terus terang, saya jarang bertemu Indra—padahal satu organisasi di Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi.
Tapi, sekali ketemu seperti saudara sendiri. Akrab sekali. Saling mengungkapkan kekaguman.
Ada dua momen yang tak bisa saya lupakan. Untuk menggambarkan kekariban itu. Pertama, saat pertama kali ketemu dia di Tanah Suci.
Saat itu, kami tidak hanya beda kloter, tapi juga beda embarkasi. Tapi, Indra tetap datang ke maktab (hotel) saya menginap.
Ngobrol. Dan, saling mengungkapkan perasaan masing-masing saat kali pertama bertemu. Setelah sekian lama hanya saling mengenal lewat nama saja.
Ini hal yang membuat kami jarang (sulit) berjumpa: kesibukan. Kami sibuk dengan urusan sendiri.
Undangan Indra selalu berbarengan dengan agenda acara saya di kantor. Juga sering bertabrakan dengan kegiatan saya di luar kantor.
Namun, kekariban kedua akhirnya terjadi juga. Momentum itu terjadi ketika Indra mengundang saya ke padepokan Kebo-keboan yang dia dirikan.
Acaranya, kalau tidak salah saat itu, peluncuran buku musik karya Kang Elvin Hendratha. Indra tampak senang sekali.
Bahkan, sampai menemani saya menikmati suguhan spesial yang disiapkannya: gule enthok.
Sayang, kami tak pernah bisa bertemu lagi. Haji Indra telah pergi menghadapi Ilahi Rabbi.
Tiga setengah bulan lalu, dia pergi untuk selama-lamanya. Tepatnya, pada 19 April 2023.
Almarhum mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan selama 10 hari di RS Darmo, Surabaya.
Tapi, Ahad kemarin saya tiba-tiba ingat Kang Aji Indra. Seakan-akan dia hadir dalam ritual adat Kebo-keboan di Alas Malang. Sibuk sekali.
Mondar-mandir di sekitar panggung utama. Bersama Kang Sarfin dan panitia lainnya.
Memastikan acara berjalan lancar dan rapi. Seperti Kebo-keboan di tahun-tahun sebelumnya. Yang selalu sukses.
Wajah dan senyum Kang Indra tampak terus mengembang. Sambil sesekali mengamati para undangan di panggung utama.
Ada Menpan-RB Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Ketua DKB Hasan Basri, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Muhammad Yanuar Bramuda, dan undangan yang lain.
Harus diakui, Kebo-keboan Alas Malang sudah identik dengan Indra. Kebo-keboan Alas Malang ya Indra Gunawan.
Indra Gunawan ya Kebo-keboan Alas Malang. Itu tidak terjadi begitu saja. Melainkan karena keikhlasan dan totalitas Indra.
Dalam merawat ritual adat yang menjadi andalan destinasi wisata kota the Sunrise of Java.
Orang baik tidak pernah mati. Jasadnya boleh berkalang tanah. Tapi, jasa-jasa dan karyanya tetap abadi. Dikenang oleh orang.
Dijalankan ide dan semangat kejuangannya. Itulah yang tampak dalam ritual adat Kebo-keboan di Desa Alang Malang, Ahad kemarin.
Ribuan orang tumplek-blek. Memenuhi salah satu perempatan jalan Desa Alas Malang. Lokasi tetap ritual Kebo-keboan.
Anak balita, anak kecil, muda-mudi, orang dewasa, dan orang tua berjubel. Memenuhi jalan yang dilalui rombongan ”kebo jadi-jadian’’.
Tidak ada yang susah. Murung. Semua semringah. Larut dalam kegembiraan. Penuh canda tawa. Terutama saat wajah dan badan mereka ”dipoleti’’ pewarna hitam.
Yang meluah luntur dari tubuh para ”kebo’’. Bercampur keringat dan air yang disiramkan panitia dari got di dekat panggung utama.
Tidak ada yang tersinggung. Ketika penonton dikejar-kejar oleh ”kebo’’. Lalu wajah dan tangannya dilaburi pewarna hitam. Justru sebaliknya.
Mereka merasa bangga. Bahkan, mungkin, juga merasa ketiban berkah. Meski tidak ikut ndadi. Kesurupan. Seperti yang dialami sebagian aktor Kebo-keboan.
Selain berdiri di pinggir lapangan, banyak juga penonton yang ikut berjalan mengiringi rombongan ”kebo’’.
Di belakang maupun sampingnya. Bahkan, ada yang menyusup di sela-sela iring-iringan ”kebo’’. Ikut memeragakan tarian Kebo-keboan. Meningkahi iringan gamelan di panggung selatan.
Juga rombongan penabuh yang berjalan di setiap kelompok Kebo-keboan. Suasana semakin riuh. Ketika beberapa barong ikut beraksi. Juga kesenian ceng-ceng ala Balian.
Entah berapa banyak penonton yang hadir. Pastinya, ribuan jumlahnya. Mereka memenuhi sepanjang rute yang dilewati rombongan ”kebo’’.
Ketika masuk lewat jalan arah barat, saya melihat para pedagang kaki lima dadakan di sepanjang kanan-kiri jalan. Belum lagi yang dari arah sebaliknya.
Pasti sama banyaknya yang jualan. Juga warung dan toko milik warga setempat. Semua ramai oleh pembeli.
Entah berapa banyak perputaran uang dalam sehari itu. Pastinya, ritual Kebo-keboan terbukti berhasil memutar roda ekonomi Desa Alas Malang begitu cepat.
Sama seperti event-event Banyuwangi Festival yang lain. Baik yang ritual adat seperti Kebo-keboan, maupun event budaya yang lain.
Dan, itu sesuai dengan strategi Pemkab Banyuwangi. Bahwa, event dalam Banyuwangi Festival tidak sekadar acara tahunan.
Tapi lebih dari itu. Harus memberi dampak sigfikan pada perekonomian masyarakat. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Baik langsung maupun tidak langsung.
Wa bakdu. Ratusan ”kebo’’ yang beraksi di Alas Malang, Ahad kemarin, berwarna hitam mulus. Dari ujung tanduk sampai mata kaki.
Baik ”kebo’’ kecil maupun besar. Tua maupun muda. Tapi, di antara ”kebo-kebo’’ hitam itu ada satu ”kebo’’ yang agak nyeleneh.
Ukuran badannya jumbo. Warnanya tidak hitam. Melainkan berwana putih. Saat melintas, ia melirik ke arah saya di panggung utama.
Rasa-rasanya, saya tidak asing dengan ”kebo’’ albino itu. Kayaknya saya kenal.
Yes. Setelah memperhatikan gerak-geriknya yang agak lamban, saya langsung ingat. Iya, betul. Ternyata dia adalah Memet.
”Kebo’’ legendaris dari Alas Malang. Juga maskot Kebo-keboan Banyuwangi. Foto dan video aksinya yang khas sudah tersiar ke seantero dunia.
*) Pekolom Banyuwangi
Editor : Ali Sodiqin