Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Warga Hanya Bisa Pasrah Cium Bau Menyengat dari Limbah Giling PG Asembagus

Humaidi. • Minggu, 16 Juli 2023 | 16:00 WIB
Truk tebu antre giling di PG Asembagus, Situbondo. Warga sekitar mengeluhkan limbah cair yang dihasilkan dari proses penggilingan yang menimbulkan bau tak sedap.
Truk tebu antre giling di PG Asembagus, Situbondo. Warga sekitar mengeluhkan limbah cair yang dihasilkan dari proses penggilingan yang menimbulkan bau tak sedap.

RADAR SITUBONDO – Pabrik Gula (PG) Asembagus lagi-lagi dikeluhkan oleh warga sekitar. Jumat lalu (14/7) BUMN yang ada di bagian timur Kota Santri ini kembali dikeluhkan warga sekitar karena masalah bau menyengat yang diduga kuat muncul dari limbah tebu.

Bau menyengat itu sudah menjadi perbicangan umum warga Asembagus, tak terkeculi bagi pemilik warung yang jaraknya cukup dekat dengan PG Asembagus. Sehingga sejumlah pembeli di warung merasa terganggu.

“Kalau keluhan warga ya banyak. Cuma ya mengeluh saja, kan tidak bisa ngapa-ngapain juga. Namanya sudah dekat dengan PG ya harus nerima resiko. Ini sudah dianggap biasa,” kata pemilik warung yang ada di deretan utara sebelah barat PG Asembagus.

Sementara itu, warga yang enggan namanya disebutkan menegaskan, bau tidak sedap itu menyebar cukup luas. “Jangkauannya luas, saya sendiri punya rumah dekat dengan PG sudah terbiasa mencium baunya,” ujarnya.

Kata dia, bau menyengat yang berasal dari limbah PG bakal tercium pada waktu-waktu tertentu. Kemungkinan bau tersebut akan sangat menyengat begitu karyawan PG  melakukan pembuangan limbah cair.

“Biasanya pukul 12.00 hingga pukul 15.00. Lepas jam ini sudah normal kembali. Tapi baunya sangat menyengat. Kalau tidak kuat bisa bersin begitu merasakan bau limbah PG Asembagus,” cetusnya.

Bagian Unit Pengelolah Limbah Cair (UPLC) PG Asembagus, Gusta membenarkan adanya bau menyengat yang dikeluhkan warga memang berasal dari UPLC PG Asembagus. Namun, pihaknya sudah berusaha untuk menekan bau tersebut agar tidak menyebar dengan cara maksimal.

“Limbah cair itu memang bau. Upaya untuk mengurangi bau tersebut kami sudah menambahkan beberapa larutan yang memang dari alam. Seperti larutan kapur dan larutan lain yang bisa mengurangi bau limbah,” tegas Gusta.

Berbicara limbah di PG Asembagus diakui memang sudah dijadikan satu tempat. Artinya setiap limbah cair mengalir ke lokasi UPLC.

“Limbah cair yang belum kami olah pasti mengeluarkan bau, begitu kami olah, baunya akan hilang,” tegas Gusta.

Dia menegaskan, adanya bau tersebut sudah disosialisasikan kepada warga. Itu dilakukan pada saat tahap pembangunan revitalisasi PG Asembagus.

“Kalau sosialisasi mungkin sudah. Kami kan dengar pendapat saja dan tanya-tanya ke warga,” cetusnya.

Kata Gusta, berkenaan dengan limbah yang mengeluarkan bau menyengat ini belum diketahui efek sampingnya terhadap warga. Untuk mengarah kepada dampak bau bagi manusia jelas membutuhkan analisa tersendiri. “Kalau dampak secara langsung mungkin butuh analisa lebih dalam lagi,” bebernya.

Masih kata Gusta, Untuk pembuangan limbah yang sudah diproses, biasanya dikelola dan sebagian dikeluarkan untuk dimanfaatkan proses untuk kebutuhan pabrik.

“Untuk limbah yang sudah masuk ke UPLC, cairannya bakal diproses untuk kebutuhan PG, sebagain juga dimanfaatkan untuk lahan tebu,” tutup Gusta melalui sambungan seluler. (hum/pri)

Editor : Ali Sodiqin
#bau limbah #pabrik gula #PG Asembagus #limbah