Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Aven Ryan Pratama, Remaja Asal Genteng yang Masuk IBL

Salis Ali Muhyidin • Kamis, 13 Juli 2023 | 21:00 WIB
BERIKAN ILMU: Aven (pegang bola) saat melatih basket kepada anak-anak kecil di Lapangan Basket Dusun Kopen, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng pada Selasa (4/7)
BERIKAN ILMU: Aven (pegang bola) saat melatih basket kepada anak-anak kecil di Lapangan Basket Dusun Kopen, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng pada Selasa (4/7)

Ingin Tularkan Ilmu Basket, Kuncinya Serius dalam Latihan. “Biarpun dari desa, aku ingin menunjukkan kalau bisa bersaing, dan bisa lebih baik dari yang lain,” kata Aven Ryan Pratama, 19, remaja asal Dusun Kaliwadung, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng yang berhasil lolos di Indonesia Basketball League (IBL).

Nama Aven Ryan Pratama, 19, mungkin bagi sebagian orang masih asing. Remaja kelahiran 14 Juni 2004 asal Dusun Kaliwadung, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, memang belum cukup popular. Bila ketemu di lapangan basket, hanya akan dianggap punya tinggi badan dan suka bermain basket biasa.

Sejak masih belajar di SMPN 1 Genteng, Aven, sapan akrabnya sudah biasa bermain basket di lapangan umum yang tidak jauh dari sekolahnya di Dusun Kopen, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng. Pada Selasa (4/7) pagi, ia terlihat berlatih di lapangan basket. Tidak sendirian, tapi bersama anak-anak dari daerah sekitar. Aven terlihat serius memberikan ilmu basketnya kepada anak-anak itu.

Dengan tinggi badan 196 centimeter, ia tentu punya kapabilitas soal menularkan kemampuan basketnya. Apalagi, mulai tahun ini menjadi orang Banyuwangi ke-4 yang bisa menembus Liga Basket Profesional di Indonesia, atau yang biasa disebut Indonesia Basketball League (IBL).

Di kalangan pemain dan pencinta olah bola tangan ini, bisa bermain untuk tim yang berlaga di IBL, tentu prestasi yang mentereng. Sebab, membuktikan jika pemain itu punya kemampuan yang hebat (tentu jangan dibandingkan dengan pemain sekaliber LeBron James, Stephen Curry, atau Kevin Durrant).

Ditemui sesaat setelah memberikan Coaching Clinic, Aven mengisahkan perjalanannya hingga bisa tembus ke IBL dengan memperkuat tim Elang Pacific Caesar asal Surabaya. Bersama tim, sukses menjadi pemain debutan terbaik atau Rookie of The Year (ROTY).

Perjalanan basket Aven, bermula sejak masuk ke SMPN 1 Genteng. Dibekali tinggi badan yang saat itu sekitar 180 centimeter, Aven memang sangat cocok bermain olahraga tersebut. “Awal bermain itu kelas 1 (VII) SMP, itupun cuma iseng karena awalnya lebih suka bermain bola volly,” kata Aven Ryan Pratama.

Saat masuk SMPN 1 Genteng, Aven yang mulanya lebih aktif bermain bola volly, pelan-pelan beralih ke basket lantaran ekstrakurikuler bola volly di sekolahnya tergolong kurang aktif. “Karena mau volly tidak begitu aktif, saya mulai pindah ke basket,” ucapnya.

Karena sering bermain, Aven pelan-pelan jatuh cinta pada olahraga ini. Seiring dengan kecintaannya pada basket, Aven juga mulai serius dengan mengikuti beragam event bersama timnya. “Karena ikut banyak event, banyak scout (pemandu bakat) melirik,” ungkapnya.

Aven kemudian dilirik oleh salah satu tim IBL. Kala itu, Elang Pacific Caesar ingin Aven pindah sekolah di Surabaya agar lebih dekat dengan lokasi latihan. “Waktu itu saya sudah lulus SMP, ditawari sekolah di sana (Surabaya), sekaligus ikut akademi Elang Pacific Caesar,” sebutnya.

Tapi setelah berunding dengan kedua orang tuanya, Lilik Kasmari, 60, dan Heni Endang Ratnawati, 56, Aven memutuskan untuk tetap sekolah di Banyuwangi dengan masuk di SMAN 1 Genteng. “Tapi di sekolah ini hanya satu semester, setelah ada kejuaraan pindah ke Surabaya dan masuk di Nation Star Academy,” tandasnya.

Selama tiga tahun di sana, bakat Aven terus diasah. Bersama tim sekolahnya ditambah porsi latihan dari tim academy Elang Pacific Caesar, kemampuannya terus berkembang. “Setelah tiga tahun sekolah SMA, saya ikut draft IBL, tapi karena sudah masuk academy, akhirnya masuk di Elang Pacific Caesar,” katanya dengan bangga.

Bukan tanpa hambatan, selama merintis karir di basket sambil sekolah umum, Aven kerap menemui jalan tidak mudah. “Harus bisa mengatur waktu untuk sekolah dan latihan basket. Harus lebih sering ambil porsi (latihan) tambahan,” cetusnya.

Tibalah musim pertama Aven bermain di IBL. Sejak awal tahun 2023, ia terus digembleng untuk bisa tampil bagus di liga basket tertinggi di Indonesia. “Saya terbilang kurang di fisik, makanya dapat porsi latihan tambahan di gym. Sehari harus lari di treadmil selama 30 menitan,” ucapnya.

Kekurangannya di stamina itu, membuat Aven sempat pesimistis akan mendapat banyak menit bermain di Elang Pacific Caesar. Apalagi, tim ini punya barisan pemain bagus yang satu posisi dengannya, yakni di power forward. “Saya terus berlatih untuk buktikan kalau orang desa bisa bersaing,” tandasnya.

Dengan keuletannya dalam berlatih, Aven rupanya bisa menarik hati pelatihnya. Saat liga dimulai, dipercaya menjadi pemain starter dengan menit bermain yang banyak. “Di musim ini saya mencatat 28 menit per game, dengan tujuh point per game,” sebutnya.

Raihan itu tentu tidak sepele, tidak banyak pemain muda dengan catatan menit bermain seperti Aven. Apalagi, pemain yang menjadikan Kevin Durrant sebagai role model itu, bisa menunjukkan permainan yang konsisten hingga pernah dipercaya menjadi kapten. “Ini bukti kalau pemain dari desa juga bisa bersaing,” katanya.

Penampilan di liga yang ciamik itu, akhirnya memberikan gambaran yang membanggakan bagi Aven. Tidak hanya untuk pribadi, tapi juga bagi kedua orang tuanya. Ia sukses didaulat sebagai ROTY terbaik di musim 2023 ini. “Alhamdulillah, dengan itu saya bisa membanggakan orang tua.” katanya.

Capaian menjadi ROTY itu, diharapkan bisa mendongkrak pendapatannya di olahraga basket. Dengan kontrak yang saat ini, Aven berharap nanti bisa mendapatkan nilai kontrak yang lebih besar lagi. “Saat ini (kontrak) dua digitlah, semoga nanti bisa bertambah dan bisa bertahan lama di IBL,” ucapnya.

Ditanya olahraga basket di Banyuwangi, Aven menyebut popularitas olahraga basket di Banyuwangi menurutnya belum setinggi kota lain. “Ini berpengaruh juga dengan banyaknya pemain basket berkualitas dari Banyuwangi. Karena di sini peminatnya sedikit, tidak seperti di Surabaya atau Jakarta,” tandasnya.

Karena itulah, remaja yang sedang mempersiapkan mengikuti ajang Pra PON di Medan itu, berkeinginan menularkan kecintaannya dalam basket kepada para pemain muda. “Dengan coaching clinic seperti ini, anak-anak akan tahu seperti apa basket. Syukur-syukur nanti bisa lebih sering lagi,” ungkapnya.

Aven berpesan para pemain muda yang mulai bermain basket, terutama yang datang dari Banyuwangi bisa lebih giat berlatih. “Meski tidak ditunjang fasilitas yang oke, harus bisa yakin dapat menggapai tujuan itu,” ujarnya seraya menyebut akan berlatih giat agar bisa masuk ke timnas basket Indonesia.(abi)

 

 

Editor : Agus Baihaqi
#serius #tinggi badan #Basket #ekstrakulikuler #ibl #lolos #Indonesia Basket League (IBL) #lapangan basket #kemampuan anak #remaja #ilmu #latihan #smpn 1 genteng