Air sungai yang berubah berwarna cokelat, hampir menyentuh permukaan jembatan penghubung Desa Tegalarum dan Desa Sempu. Tingginya air, smepat menjadi tontonan warga sekitar. “Akibat hujan lebat sejak beberapa hari lalu, mungkin di hulu hujannya deras,” kata Koordinator Sumberdaya Air (Korsda) Genteng, Sarwadi.
Menurut Sarwadi, peningkatan debit air ini dinilai dalam taraf mengkhawatirkan. Ia meminta masyarakat yang tinggal di bantaran sungai tetap berhati-hati. “Mungkin nanti dua atau tiga jam akan surut, tapi harus tetap dipantau,” ujarnya.
Sarwadi sendiri mengaku tidak bisa menunjukkan data pasti ketinggian air di Sungai Kalisetail, tepatnya di Dusun Krajan, Desa Setail tersebut. Tapi, data yang dihimpun dari anggotanya di Dam atau Bendung Setail, menunjukkan ketinggian air mencapai 180 centimeter. “Aliran sungai itu mengalir ke Bendung (Dam) Setail,” ungkapnya.
Ketinggian air mencapai 180 centimeter itu, jelas dia, kategori tinggi. Itu hampir tiga kali lipat dari ketinggian air di di hari biasanya. “Selama tiga hari sebelumnya, ketinggiannya air rata-rata sekitar 40 centimeter. Sedangkan di lokasi tersebut (Dusun Krajan, Desa Sempu), juru perairan masih belum memberikan laporan,” katanya.
Salah satu warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Sempu, Muntoha, 35, menjelaskan, debit air di Sungai Kalisetail naik sejak dini hari. “Hujan tidak berhenti sejak malam. Subuh itu suaranya sudah gemuruh pertanda banjir,” sebutnya.
Suara gemuruh itu, kata dia, berasal dari bebatuan yang terbawa derasnya air dari hulu. Bahkan, suara itu terdengar oleh warga yang tinggal di sekitar sungai. “Suaranya seperti petir, banyak batu-batu yang dari atas ikut ke bawa karena arusnya deras,” tandasnya.
Meningkatnya debit air ini, dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari ikan di sungai. Tak sedikit warga yang mendapat ikan dan sidat berukuran besar. “Tadi ke sini untuk lihat-lihat dan cari ikan,” pungkasnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi