RADAR SITUBONDO – Hj Dika, warga Desa Pesanggrahan, Kecamatan Jangkar, Situbondo, tidak menduga ibunya akan meninggal saat menjalankan ibadah haji.
Sebab, almarhumah Ruswalul Dewi masih sempat melakukan video call beberapa jam sebelum dikabarkan meninggal oleh petugas haji.
Dika mengatakan, sebelum meninggal ibunya sempat menghubungi dirinya melalui aplikasi video call. Saat itu almarhumah mengabari sudah selesai melaksanakan lempar jumrah bersama jemaah haji lainnya asal Situbondo.
”Ibu saya meninggal hari Selasa sore. Sebelum meninggal itu masih menghubungi saya melalui video call. Beliau cerita bagaimana di Makkah. Kemudian apa saja yang sudah dilakukan, seperti habis lempar jumrah, itu ibu cerita. Saat itu kondisinya masih terlihat sehat,” ujar Dika, Kamis (6/7).
Setelah beberapa saat kemudian, Dika menerima panggilan telepon dari saudara sepupu, yang saat itu juga sedang melaksanakan ibadah haji. Sepupunya itu menyampaikan bahwa ibunya baru saja meninggal.
”Jadi saya dapat kabar itu setelah saya salat Isya. Tapi kalau dibandingkan dengan waktu di Makkah, saat itu ibu saya meninggal setelah salat Asar. Pas saudara menghubungi saya, katanya orang tua saya baru saja meninggal di rumah sakit,” jelasnya.
Dika langsung kaget mendapat informasi duka tersebut. Dirinya pun langsung meminta saudaranya untuk mendokumentasikan hingga proses pemakaman selesai.
”Saya minta tolong saudara untuk memvideokan ibu saya. Karena kita di sini tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya ingin melihat orang tua sebelum dimakamkan,” kata perempuan 40 tahun itu.
Meski sempat tidak menduga akan ditinggal selamanya oleh sang ibu, namun Dika mengaku ikhlas. Sebab, orang yang telah melahirkannya itu meninggal dalam keadaan sedang melaksanakan ibadah haji.
”Alhamdulillah, ibu saya sudah melaksanakan semua proses ibadah haji. Insya Allah ibadahnya diterima dan meninggal husnul khatimah,” tuturnya.
Dika menyebut, ibunya mendaftar haji sejak tahun 2011. Kedua orang tuanya mendaftar haji secara bersamaan. Hanya saja, ayahnya tidak berangkat haji karena lebih dulu meninggal dunia.
”Pas daftar haji tahun 2011 itu ibu dan ayah. Tapi karena ayah saya meninggal, maka yang berangkat sekarang hanya ibu. Sedangkan uang pendaftaran untuk ayah dicabut,” jelasnya.
Awalnya ibunya dijadwalkan berangkat haji pada tahun 2021. Hanya saja keberangkatan ditunda akibat pandemi Covid-19.
”Dari tahun 2021 terus 2022 keberangkatan haji ibu saya ditunda-tunda terus. Akhirnya ibu pun sempat mengatakan kalau biaya pendaftaran hajinya akan dicabut. Namun, saya sempat menasihati agar tidak dicabut. Harapannya, agar bisa melaksanakan ibadah haji. Karena kalau umrah ibu sudah pernah,” jelasnya.
Dika mengatakan, dirinya ikut mengantarkan saat ibunya berangkat haji. ”Saat baru mau berangkat ibu terlihat senang. Kami pun ikut senang. Tapi saat ini sudah meninggal. Kami hanya bisa pasrah dan ikhlas,” ungkapnya.
Dika menambahkan, ibunya selama ini memang sakit-sakitan. Almarhum mengalami gangguan kesehatan pada organ jantung. ”Sudah lama juga menjalani perawatan ke dokter. Saat berangkat pun sudah diberi obat,” jelasnya.
Dika menambahkan, dirinya menduga bahwa setelah melaksanakan lempar jumrah itu, ibunya kelelahan. Sehingga mengakibatkan kesehatannya menurun.
”Ketika ibu saya drop, sama dokter itu ditangani cepat dibawa ke rumah sakit. Cuma pas di rumah sakit, kondisi kesehatannya terus menurun,” pungkasnya. (wan/ri/c1)
Editor : Ali Sodiqin