SATU pekerja migran Indonesia (PMI) yang diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) asal Desa/Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember tidak berani pulang ke rumahnya. Dia mengaku mendapat ancaman dari keluarga, bila berani pulang ke rumahnya. PMI yang bernasib malang itu Zulfa Ramdhani, 32.
Zulfa mengaku berangkat menjadi PMI dan dipekerjakan di Myanmar, itu atas tawaran dari YS, kakak kandungnya. Saat ini, kakak kandungnya ditangkap polisi dan diamankan di Polda Jatim bersama Kholik alias Bagong, warga Dusun Sumbergroto, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono. “Waktu di Polda Jatim pada Selasa (27/6), saya ketemu dengan kakak saya itu,” cetus Zulfa.
Menurut Zulfa, kakak kandungnya memang memiliki hubungan pertemanan dengan Kholik alias Bagong. Mereka memiliki usaha yang sama. “Kakak saya ini dulu kerja sebagai penyalur PMI legal bersama Pak Kholik. Saya dulu diberangkatkan lewat agen resmi di Malang ke Singapura oleh kakak itu,” ungkapnya.
Saat ditawari bekerja di Myanmar, jelas dia, YS tidak memberitahu secara detail gambaran pekerjaan yang aditawarkan. Hanya saja, waktu itu kakaknya akan dipekerjakan di Thailand. “Bayangan saya ya ke Thailand, ternyata di Myanmar,” katanya.
Selain memberangkatkan Zulfa, YS juga memberangkatkan Bagus Purnomo, warga Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember. “Oleh kakak Bagus, dikenalkan ke kakak saya dan ketemu di rumah Bagus,” imbuhnya.
Usai bekerja lingkungan yang tidak manusiawi di Myanmar, Zulfa dan rekan kerjanya, Ahmad Sugiantoro, M Nur Ilyas, M Tegar Adi Saputra, Reda Aji Saputra, dan Bagus Purnomo membuat video secara sembunyi-sembunyi. “Akhirnya videonya viral dan bisa pulang ke Indonesia ini,” ungkapnya.
Tapi saat pulang ke Indonesia, Zulfa justru menerima ancaman dari pihak keluarga. Ia difitnah melaporkan kakak kandungnya ke Polda Jatim, dan akhirnya YS diciduk polisi. “Saya diminta mencabut laporan, padahal saya tidak pernah lapor,” katanya.
Bentuk ancaman itu, jelas dia, bila sampai di rumah akan dibunuh. Yang membuatnya miris, ancaman itu juga menyasar ke anak tunggalnya yang masih berusia lima tahun. “Anak saya juga akan dibunuh,” ungkapnya.
Takut dengan ancaman itu, saat perjalanan pulang dari Surabaya ke Jember pada Rabu (28/6), Zulfa memilih bermalam di Mapolsek Ambulu, Jember. “Setelah itu saya mengungsi ke Banyuwangi,” cetusnya.
Sampai saat ini, Zulfa juga masih merahasiakan lokasinya mengungsi. Tapi, berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi. “Yang jelas, saya akan mencari pekerjaan lagi untuk menyambung hidup,” pungkasnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi