SRONO, Jawa Pos Radar Genteng – Empat pekerja migran Indonesia (PMI) yang sempat viral di media sosial karena disiksa di Myanmar, akhirnya bisa pulang ke kampung halamannya. Para korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) itu menyampaikan perjalanan pahitnya di negeri tetangga, Senin (3/7).
PMI korban TPPO asal Banyuwangi yang telah dipulangkan ke kampung halamannya pada Rabu (28/6) ada empat orang, mereka itu Ahmad Sugiantoro, 21, dan M Nur Ilyas, 22, keduanya warga Dusun Krajan Kulon, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono; M Tegar Adi Saputra, 20, asal Dusun Cempokosari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, dan Aji Reda Saputra, 23, warga Dusun Tempurejo, Desa Sidorejo, Kecamatan Purwoharjo.
Keempat PMI itu diberangkatkan oleh kerabat mereka sendiri, Kholik alias Bagong, warga Dusun Sumbergroto, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono yang kini sudah diamankan di Polda Jatim. “Sebelum pulang ke rumah, kita sempat bertemu dengan Bagong saat konfrensi pers di Surabaya,” kata Aan, sapaan akrab Ahmad Sugiantoro.
Aan mengaku, Kholik menawari pekerjaan pada Oktober 2022 dengan tujuan Thailand. Ia yang kepincut karena diiming-imingi gaji besar. “Katanya kerja kantoran di depan komputer, gajinya besar. Saat itu saya masih kerja membantu ayah mengumpulkan rosokan,” ungkapnya.
Aan yang tertarik dengan tawaran itu, kemudian menyetujui dan membayar Rp 10 juta sebagai biaya keberangkatan. “Awalnya orang tua tidak setuju, karena tidak yakin. Tapi karena saya ingin mengubah nasib, akhirnya tetap nekat berangkat,” cetusnya.
Anak tunggal pasangan Ahmad Teguh, 60, dan Sumini, 58, itu mengatakan, berangkat ke Thailand rombongannya ada tujuh orang. Saat tiba di imigrasi Bandara Thailand, sempat ditanya tujuannya ke negara Gajah Putih itu oleh petugas. “Di bandara saya dihubungi oleh orang suruhan Pak Kholik melalui pesan WA (WhatsApp) , orang itu bilang kalau ditanya tujuan ke Thailand disuruh bilang ingin rekreasi,” terangnya.
Tidak lama setelah pesan itu dibaca, jelas dia, pesan dari orang yang mengaku suruhan suruhan Kholik itu dihapus dan nomornya juga tidak dapat dihubungi. “Mungkin untuk menghilangkan jejak,” katanya.
Selama bekerja di negera seberang itu, Aan mengaku ditempatkan di sebuah tempat terpencil yang lokasinya perbatasan Myanmar dan Thailand. “Butuh waktu 12 jam lebih untuk ke sana dengan mobil dan perahu,” katanya.
Tempat yang dituju itu, jelas dia, memiliki gedung tinggi dan terbagi beberapa blok. Setiap blok dikelilingi tembok tinggi dari bata yang di atasnya ada kawat berduri. “Di situ tempat saya bekerja sebagai scammer,” ungkapnya.
Tempat kerja Aan itu, wilayah yang disewa oleh China selama seratus tahun, dan dijaga ketat oleh tentara bayaran. “Kalau sudah terlanjur masuk, tidak ada yang bisa keluar dari sana, tempatnya dijaga ketat dan terpencil di tengah hutan,” ujarnya.
Selama bekerja, Aan kerap mendengar suara letusan senjata api dari luar tembok tempatnya bekerja. Suara yang mirip sedang baku tembak itu biasanya malam hari. “Pekerjaan saya dan teman-teman itu, bos memberi targetpada tiga bulan pertama mencari orang untuk ditipu,” ungkapnya.
Setelah melewati tiga bulan, Aan diberi target agar para korbannya mendepositkan sejumlah uang dan diaplikasi ke judi daring. “Menipunya lewat aplikasi kencan seperti OMI, Tinder, Tantan, dan sebagainya,” katanya.
Jika tidak bisa memenuhi target, Aan akan dikenakan denda seperti potong gaji. Tidak hanya itu, juga dipukul pakai tangan kosong. “Tidak tahan dengan siksaan itu, kita yang satu kamar membuat video di Tiktok secara sembunyi-sembunyi, dan akhirnya viral dan dapat perhatian pemerintah,” pungkasnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi