RADAR SITUBONDO – Sejumlah pemborong tebu mengaku tidak tertarik untuk mengirimkan tebunya ke Pabrik Gula (PG) yang ada di Situbondo. Termasuk PG Asembagus yang sudah dimodernisasi. Sebab, mengaku rugi jika dipaksakan memasok bahan baku pembuatan gula tersebut ke PG yang ada di wilayah timur Kota Santri tersebut.
Seperti pengakuan Sugianto, pemborong tebu yang ada di Desa Bantal, Kecamatan Asembagus. Kata dia, sejak jadi pemborong tahun 2016, dirinya bisa berjalan mandiri. Sehingga, tidak punya ikatan harus memasukkan tebu ke PG Asembagus. “Saya tiap hari rutin kirim ke luar Situbondo empat sampai lima truk, ya karena saya tidak punya ikatan dengan PG Asembagus,” terangnya.
Dia mengungkapkan, orang PG Asembagus sempat mendatangi dirinya meminta bantuan pasokan tebu saat musim giling tiba. Dia mengaku tak keberatan, yang terpenting PG Asembagus bisa memenuhi permintaannya juga. Yakni meningkatkan harga tebu petani. “Saya jawab begini, kalau sampean (orang PG Asembagus) tidak berani meningkatkan harga tebu, ya otomatis petani Bantal ini akan dijual ke luar,” terangnya.
Sugianto menegaskan, PG Asembagus dan petani sama-sama cari keuntungan. Sehingga, jika ada kerjasama harus saling menguntungkan. “Seharusnya orang pabrik (gula) ini lebih tahu diri, karena kehidupannya hanya bergantung kepada satu musim giling. Ayo galakkan petani Asembagus untuk menanam tebu dan beli dengan harga tinggi. Insya Allah petani tebu kan senang meningkatkan tanaman tebunya. Kalau harga masih rendah, ya lebih baik jual ke orang lain meski jauh,” tandasnya.
Sugianto mencontohkan, dirinya memilih mengirim tebu dari Desa Bantal ke PG Wonolangan meski lebih jauh. Namun, setelah dikalkulasi ternyata lebih menguntungkan dikirim ke PG Wonolangan. Jika dikirimkan ke PG Asembagus, maka dirinya akan rugi Rp 700 ribu dalam sekali kirim. “Coba saja hitung-hitungan. Saya sehari minim lima truk kirim ke PG Wonolangan. Dalam satu truk memuat lima ton. Kalau tujuh truk berarti kan 350 ton?. Saya rugi Rp 2.000 perkuintal jika dikirim ke PG Asembagus setelah dipotong ongkos kirim,” tegasnya.
Dia mengakui, PG Asembagus memang tidak bisa menentukan harga sendiri. Karena harus tunduk kepada ketentuan dari pemerintah. Sehingga, pabrik swasta terkesan lebih berani mengambil risiko dengan keuntungan yang sudah diprediksi. “Belum lama ini saja, D.O Asembagus harga gulanya ditawar Rp 11.750. Sedangkan lelang di Kerebet yang pabrik swasta D.O nya lebih mahal, Rp 12.300,” jlentrehnya.
Diakui, saat ini PG Asembagus memang full bahan baku. Apalagi sejak awal juga mendatangkan (tebu) dari luar. Misalnya Bondosowo dan sekitarnya. “Saya sendiri tidak paham kenapa antrean di PG Asembagus sampai padat. Apakah mengurangi volume penggilingan atau pasokan yang memang banyak? Teman-teman (pemborong) saya di Bantal lumayan banyak juga kirim (tebu) ke Asembagus, ya karena ada ikatan pinjaman ke PG,” ungkap pria yang menjadi pemborong tebu sejak dari 2016 itu.
Sementara itu, Humas PG Asembagus, Bimo, membantah jika petani tebu dinilai rugi. Bahkan dia mengklaim petani saat ini bisa untung.
“Tidak ada petani tebu di Asembagus yang rugi. Kalau tidak percaya tanyakan pada pengurus APTR. Sampai sekarang justru petani-petani Asembagus jauh lebih untung. Karena biasanya kalau petani rugi, APTR akan komplain kepada kita. Tapi buktinya tidak ada yang komplain,” ucapnya.
Bimo menjelaskan, pembayaran keuangan petani di PG Asembagus menggunakan sistem bagi hasil. Maka saat hasil tebunya bagus karena rendemennya tinggi, otomatis hasilnya juga tinggi dan petani untung.
“Kalo masalah penjualan gula, itu kewenangan pemerintah pusat melalui sistem tender. Kita hanya menyediakan barang, dan yang menentukan di sana. Jadi kita mengikuti aturan saja. Tapi yang jelas ketika tebunya bagus, maka petani bisa untung besar juga,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bimo mengatakan, pelaksanaan tender gula juga melibatkan perwakilan dari petani tebu. Sehingga, saat hasil gula PG Asembagus dinilai terlalu murah, maka petani bisa menunda terlebih dahulu.
“Meskipun gagal ikut tander karena harganya murah, petani masih kita bayar. Kita mengacu pada harga gula di pasaran. Biasanya Rp 11.50 perkilogram. Jadi kalau nanti ternyata tendernya bisa mencapai Rp 11.700, maka kekurangannya akan kita angsur. Sebaliknya, kalau ternyata tendernya di bawah Rp 11.500, maka petani itu kita minta untuk mengembalikan kelebihan pembayaran,” pungkasnya.
Selain itu, Bima menyampaikan bahwa PG Asembagus sudah menjalin hubungan baik dengan para petani. Namun ketika ada petani yang menjual tebu ke PG lain, maka pabrik tidak bisa menghalangi. “Oya tidak apa-apa kalau mau jual ke PG lain. Kita tidak memaksa kok. Kalau pun kita kekurangan bahan, kita ambil dari luar Situbondo,” pungkasnya. (wan/pri)
Editor : Ali Sodiqin