GAMBIRAN, Jawa Pos Radar Genteng- Idul Adha identik dengan sate. Pada hari raya kurban itu, banyak warga yang membuat sate di rumahnya setelah mendapat daging dari musala atau masjid. Dan itu, membuat permintaan tusuk sate mulai mengalami peningkatan.
Selama sepekan terakhir, peningkatan sudah mulai menembus 100 persen dibandingkan hari biasa. Salah satu pembuat tusuk sate, Alhaq, 30, warga Dusun Tempursari, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran mengaku, dalam seminggu biasanya memproduksi tusuk sate sebanyak tiga kuintal. “Mendekati Idul Adha ini naik jadi enam kuintal,” katanya Jumat (23/6).
Kenaikan permintaan tusuk sate itu, kata Alhaq, memang kerap terjadi menjelang Hari Raya Idul Adha. Banyak warga yang mengolah daging kurban menjadi sate. Harga tusuk sate dijual Rp 14 ribu per kilogramnya. “Biasanya menjelang Idul Adha bisa dapat Rp 8,4 juta selama seminggu,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Untuk pemasarannya, Alhaq menyampaikan tusuk sate itu didistribusikan ke sejumlah pasar di Kabupaten Banyuwangi. Selain itu, juga ke sejumlah luar kota. “Ada juga yang di luar Banyuwangi, seperti Sumbawa dan Lombok di NTB,” ungkapnya.
Tusuk sate yang dibuat oleh Alhaq, diproduksi dengan teknologi modern, yaitu dengan bantuan mesin pemotong bambu. Setiap mendekati Lebaran Kurban, ia masih sering kewalahan melayani pesanan. “Mesin punya keterbatasan produksi, tidak mungkin untuk dipaksa produksi lebih,” terangnya.
Makanya, masih kata dia, tusuk sate yang diproduksi hanya dibatasi hingga enam kuintal dalam seminggu. Hasil produksi itu, masih belum mampu memenuhi semua permintaan. “Ada yang terpaksa kita tolak,” imbuhnya.
Kendala lain yang dialami pembuat tusuk sate saat ini, terang dia, bahan baku. “Sulit cari bambu di sini, barangnya mulai sedikit. Kita cari di Probolinggo yang sewaktu-waktu bisa dikirim ke Banyuwangi,” ungkapnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi