PURWOHARJO, Jawa Pos Radar Genteng – Masa pandemi Covid-19, perekonomian masyarakat terganggu karena kegiatannya dibatasi. Tapi, selama musim korona itu malah menjadi berkah bagi para penjual jamu tradisional.
Selama dua tahun pandemi, rezeki produsen jamu tradisional di Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Purwoharjo, ini malah mengalir deras. “Terus terang, saat pandemi penjualan naik 30 persen dibandingkan hari biasa, ungkap Resmi Asih, 50, pemilik toko jamu tradisional Rabu (21/6).
Menurut Resmi, saat pandemi banyak masyarakat yang percaya jamu tradisional bisa menjadi alternatif melawan Covid-19. “Sekitar 300 hingga 400 botol jamu tradisional bisa terjual dalam waktu sehari,” ujarnya.
Resmi menjual jamu tradisional dalam botol kemasan 600 mililiter. Jamu yang terdiri atas kunir asam, beras kencur, dan temulawak itu dijual dengan harga Rp 6.000 per botol. “Mungkin karena murah jadi banyak yang beli,” cetusnya.
Tak hanya diburu oleh masyarakat Banyuwangi saja, Resmi meyebut jamu tradisional buatannya juga diburu oleh masyarakat dari kabupaten tetangga. “Ada dari Jember, Bondowoso, dan Situbondo juga ada yang datang ke sini,” terangnya.
Saat Covid-19 melandai, jelas dia, jumlah pembeli jamu juga ikut menurun. Bahkan, kini hanya tinggal langganannya saja yang masih membeli produknya. “Sekarang terjual 100 sampai 150 botol per hari,” sebutnya.
Toko yang dimiliki Resmi itu warisan dari mendiang buyutnya, Ariatun. Dia penerus generasi ketiga sejak dibukanya toko jamu tradisional tersebut. “Mulai 1957, buyut saya yang mengawali toko ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Supriyono, 50, warga Dusun Curahpecak, Desa/Kecamatan Purwoharjo mengaku kerap membeli jamu di toko milik Resmi. “Sudah mulai kecil menjadi langganan di sini,” ujarnya.
Jamu tradisional buatan Resmi, kata dia, masih dibuat dengan cara tradisional. Itu yang membuat rasanya enak dan berkhasiat. “Kalau sakit, beli jamu di sini, sembuhnya bisa lebih cepat,” pungkasnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi