Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Banyaknya Anjing Warga yang Berkeliaran, Kesulitan Monitoring Vaksin Rabies

Salis Ali Muhyidin • Rabu, 21 Juni 2023 | 19:10 WIB
BERDAMPINGAN: Salah satu anjing peliharaan warga berkeliaraan di di sepanjang jalan Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore Selasa (20/6).
BERDAMPINGAN: Salah satu anjing peliharaan warga berkeliaraan di di sepanjang jalan Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore Selasa (20/6).

GLENMORE, Jawa Pos Radar Genteng – Merebaknya kasus rabies di wilayah Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), ternyata sudah mendapat perhatian serius dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Banyuwangi. Melalui Bidang Kesehatan Hewan (Keswan), rutin melakukan monitoring pada Hewan Penular Rabies (HPR), khususnya anjing di Banyuwangi, Selasa (20/6).

Monitoring rutin tahunan yang biasa dilakukan pada Februari dan Maret, dilakukan dengan cara pengambilan darah pada anjing dengan skema sampling di suatu daerah. “Rutin kita lakukan, biasanya dilakukan di kawasan yang banyak anjingnya seperti Purwoharjo, Rogojampi, Pesanggaran, Tegaldlimo, hingga Glenmore,” kata Kabid Keswan Dispertapan Banyuwangi, drh Nanang Sugiarto.

Pada Jawa Pos Radar Genteng, Nanang menyatakan monitoring terhadap HPR, khususnya anjing dilakukan untuk mengetahui anjing sudah mendapat vaksinasi rabies atau belum. “Karena mungkin akan muncul kekhawatiran di daerah soal anjing-anjing yang berkeliaran, makanya kita selalu melakukan monitoring,” ungkapnya.

Meski rutin melakukan monitoring, Nanang mengaku timnya kerap kesulitan untuk melakukan pengecekan terhadap anjing-anjing liar yang biasa bersandingan dengan lingkungan masyarakat. “Monitoring kepada anjing yang ada pemiliknya mungkin bisa dilakukan, tapi kalau anjing liar kami kesulitan, karena sering brontak,” tandasnya.

Makanya, lanjut dia, monitoring dilakukan dengan cara pengambilan sample yang biasanya berjumlah sekitar lima hingga enam ekor anjing di setiap daerah. “Tidak mungkin kita ambil sample seluruh anjing di wilayah tersebut, karena akan menyita banyak waktu. Yang jelas untuk monitoring sudah sering kita lakukan,” paparnya.

Nanang menyebut, hingga kini belum bisa memaparkan data mengenai hewan yang sudah mendapat vaksin rabies. “Untuk data anjing peliharaan mungkin bisa dicari datanya, karena setiap vaksinasi (rabies) akan dicatat. Tapi untuk anjing liar ini yang sangat susah,” tandasnya.

Terkait vaksinasi rabies terhadap anjing, Nanang menuturkan melalui Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) dan Rumah Sakit Hewan sudah menyediakan vaksin rabies untuk hewan milik masyarakat. “Itu gratis, yang penting janjian dengan pihak mantri dan stok vaksinnya masih tersedia,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat mulai berhati-hati. Bila ada seseorang yang tergigit anjing, untuk segera koorinasi dengan petugas kesehatan di tempatnya. “Yang tergigit bisa segera mendapat perawatan VAR (Vaksin Anti Rabies), sedangkan yang menggigit (anjing) akan dikarantina dan dicek apakah terpapar rabies atau tidak,” katanya.

Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Wilayah Jatim IV Banyuwangi, drh Risa Isna Fahziar menjelaskan, untuk mengetahui anjing terpapar rabies atau tidak, petugas harus melakukan pengamatan terlebih dahulu. “Biasanya ada perubahan karakter, cenderung takut pada cahaya dan air. Selain itu, juga bisa dengan pengambilan sampel otak anjing tersebut,” tandasnya.

Risa mengatakan saat ini perlu dilakukan controlling hewan yang sudah tervaksin rabies atau belum, ini untuk menekan kekhawatiran masyarakat. “Tidak hanya kekhawatiran bagi pemilik anjing, namun juga masyarakat di lingkungannya. controlling itu bisa dilaksanakan oleh dinas terkait (Dispertapan),” pungkasnya.(sas/abi)

 

 

Editor : Agus Baihaqi
#anjing rabies #Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi #Dokter Hewan Indonesia Wilayah Jatim IV Banyuwangi #hewan penular rabies #vaksinasi rabies #Monitoring