RADAR BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi terus menata Pasar Banyuwangi agar tidak semrawut. Salah satu langkah yang diambil adalah menertibkan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di atas trotoar. Penertiban kali ini menyasar PKL Pasar Banyuwangi.
Penertiban Senin (19/6) pagi itu melibatkan puluhan petugas gabungan dari Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Dinkop-UMP), Polresta Banyuwangi, Kodim 0825, Satpol PP, dan Dishub Banyuwangi. Mereka bergerak cepat menertibkan PKL yang berjualan di atas trotoar alias pedestrian. Sesuai fungsinya, trotoar tersebut sebagai fasilitas publik untuk pejalan kaki.
PKL diminta masuk ke dalam los pasar dan tidak diizinkan lagi berjualan di atas trotoar. Tak ada penolakan berarti dalam aksi penertiban tersebut. Pasalnya, sejak beberapa hari sebelumnya, Satpol PP maupun aparat kepolisian sudah berulang kali memberikan informasi kepada PKL, termasuk dengan surat tertulis.
Meski masih ditemukan beberapa pedagang yang berjualan di atas trotoar, petugas dengan cepat membantu mengangkat dagangan masuk ke dalam los pasar. "Kalau berjualan di dekat jalan (di atas trotoar) cepat laku. Kalau di dalam pasar sepi pembeli, makanya banyak yang jualan di pinggir jalan," ujar salah seorang pedagang lauk, Poninten, 65.
Wanita asal Kelurahan Pakis itu menambahkan, pedagang seperti dia yang lapaknya masuk ke dalam pasar tak bisa berbuat banyak. Dikatakan Poninten, jumlah pedagang yang berjualan di tepi jalan semakin banyak. Rata-rata datang dari jauh yang tidak dikenali. "Yang paling banyak pedagang sayur dan buah-buahan. Mereka jualan mulai habis subuh sampai pukul 07.00 atau pukul 08.00," tutur nenek dua cicit itu.
Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, pasca-penertiban, kondisi trotoar tidak semrawut lagi. Tak da lagi kendaraan yang parkir di dekat trotoar. Jalan terlihat luas dan bersih. Meski tak ada jaminan bagi para pedagang tidak akan berjualan lagi di atas trotoar , namun petugas tampak bersungguh-sungguh melakukan penataan.
Kepala Dinkop-UMP Nanin Oktavintie mengatakan, tidak mudah melakukan penataan di Pasar Banyuwangi. Belum lagi kebiasaan masyarakat yang ingin melakukan transaksi secara praktis ikut mendukung keberadaan pedagang di atas trotoar. Pembeli ingin melakukan transaksi dengan cepat tanpa turun jauh-jauh dari motor. Namun, jika tidak dibiasakan, akan sulit untuk mengubah kawasan Pasar Banyuwangi menjadi lebih rapi dan bersih.
Penertiban tersebut, kata Nanin, tidak dilakukan secara mendadak. Jauh sebelumnya, Dinkop-UMP sudah melakukan pembicaraan dengan pedagang pasar. Bahkan, mereka diberi tenggat waktu sampai H+10 Lebaran untuk membersihkan daganganya agar tidak digelar di atas trotoar. "Kita sudah ada kesepakatan dengan pedagang sebelumnya. Baru sekarang kita penertiban kita realisasikan. Sebelumnya juga sudah ada pemberitahuan,’’ kata Nanin.
Mantan Kabag Perlengkapan Pemkab Banyuwangi itu menjelaskan, konsep awal pembangunan pasar di Jalan Satsuit Tubun adalah akan disulap seperti Jalan Malioboro Jogjakarta. Di sana, jalur pedestrian tertata rapi. Ke depan, pada malam hari kawasan Pasar Banyuwangi akan ada PKL yang berjualan di atas trotoar. Penataan ini akan menambah daya tarik wisatawan yang datang ke Banyuwangi. "Kita butuh lokasi yang lebih tertib dan bersih. Paguyuban pasar juga sudah kita ajak bicara pada bulan puasa lalu," tegasnya.
Nanin menambahkan, tidak ada peningkatan pendatan asli daerah (PAD) yang signifikan dengan menjamurnya PKL di atas trotoar. Apalagi, para pedagang sudah membayar sewa los secara resmi dua tahun sekali di titik-titik pasar yang sudah ditentukan.
"Kalau yang di depan kita tidak tahu bayarnya ke mana. Kita benahi pelan-pelan, termasuk kondisi los di dalam pasar," tegasnya.
Pengurus Paguyuban Kelompok dan Pedagang Kaki Lima (Pakompak) Sudirman menambahkan, pada prinsipnya pedagang mau ditata oleh pemerintah. Mereka juga enggan jika selalu disebut sebagai masyarakat yang terus melanggar aturan daerah. Hanya saja, Sudirman meminta fasilitas di dalam area Pasar Banyuwangi bisa dibenahi.
Sebab, ada keluhan dari pedagang jika malam hari kawasan di dalam pasar gelap tanpa penerangan. Belum lagi ada talang air yang bocor. Sebelum dipindah harus benar-benar disiapkan. "Semuanya sudah oke, prinsipnya kita setuju. Yang jualan di depan itu pedagang nomaden. Mereka datang dari jauh. Ada dari Kalipuro, Glagah, Rogojampi, dan Kabat. Mereka sudah terlalu lama dibiarkan berjualan, jadi merasa nyaman," tandasnya. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin