Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Permintaan Vaksin Rabies Meningkat, Dampak Merebaknya Penyakit Rabies di Bali, NTB, dan NTT

Salis Ali Muhyidin • Selasa, 20 Juni 2023 | 19:00 WIB
ANJING GILA: drh Risa Isna Fahziar memberikan injeksi vaksin rabies ke salah satu anjing milik pasiennya di tempat praktiknya Dusun Jenisari, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Senin (19/6).
ANJING GILA: drh Risa Isna Fahziar memberikan injeksi vaksin rabies ke salah satu anjing milik pasiennya di tempat praktiknya Dusun Jenisari, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Senin (19/6).

GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Merebaknya kasus rabies di wilayah Provinsi Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nusa Tenggara Barat (NTB), memicu kekhawatiran di kalangan pencinta anjing di Banyuwangi. Apalagi, Bumi Blambangan berbatasan langsung dengan daerah rabies sebagai kejadian luar biasa (KLB), Senin (19/6).

Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Wilayah Jatim IV Banyuwangi, drh Risa Isna Fahziar mengatakan, meski belum masuk ke Banyuwangi, penyakit yang biasa disebut anjing gila ini mulai membuat owner anjing khawatir. “Mulai ramai (ada kekhawatiran) di kalangan dog lover,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Kekhawatiran itu, terang Risa, muncul seiring ramainya pemberitaan penyakit rabies hingga menimbulkan korban jiwa di beberapa daerah. “Di media sosial sudah mulai ramai, di Bali, NTT dan daerah sekitarnya malah sudah KLB,” terangnya seraya menyebut rabies merupakan penyakit zoonosis alias bisa menular ke manusia.

Menurut Risa, banyak pemilik anjing yang mulai ditanya oleh para tetangga terkait anjingnya sudah tervaksin rabies atau belum. “Ada yang mulai ditanya oleh lingkungan, apa sudah divaksi (rabies). Karena santernya berita, wajar banyak yang khawatir,” katanya.

Risa menyebut saat ini permintaan vaksin rabies melonjak dibanding sebelumnya. Malahan, ia menyebut vaksin rabies mulai langka di tingkat distributor. “Permintaan vaksin meningkat, padahal sebelumnya diremehkan,” tandasnya.

Menyikapi itu, Risa mengimbau masyarakat tidak membeli Hewan Penular Rabies (HPR), khususnya anjing dari wilayah Bali, NTT, hingga NTB. Selain itu, ia juga minta pemilik anjing memperhatikan vaksinasi rabies pada anjingnya. “Pemilik anjing jangan sampai panik,” pungkasnya.

Salah satu pemilik anjing asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Kukuh Edhi ijaya, 23, mengaku mulai khawatir lantaran di kampungnya banyak ditemukan anjing berkeliaran. “Punya saya sudah (divaksin), tapi di sini banyak anjing berkeliaran, apalagi rabies menular lewat gigitan,” katanya.

Kukuh berharap disediakan fasilitas vaksinasi rabies. Itu untuk mengantisipasi penyakit rabies di Banyuwangi. “Sekarang masih berbayar, mungkin ada yang disubsii sehingga mempermudah masyarakat yang punya anjing,” ujarnya.(sas/abi)   

 

Editor : Agus Baihaqi
#anjing #penyakit zoonosis #dokter hewan #PDHI Jatim #vaksin rabies