GLENMORE, Jawa Pos Radar Genteng – Jajaran Pabrik Gula (PG) Glenmore kini tengah berbahagia. Kali ini, mereka telah menggiling 175 ribu ton tebu. Capaian itu, naik 30 persen dibanding tahun lalu di hari giling yang sama, Minggu (18/6).
General Manager (GM) PG Glenmore, Yus Martin menyampaikan, hingga hari giling ke-27, PG Glenmore telah menggiling 175 ribu ton tebu. “Ini indikator keberhasilan strategi klusterisasi yang dilakukan manajemen PT Sinergi Gula Nusantara (SGN)”, terang Yus Martin pada Jawa Pos Radar Genteng.
Keberadaan PT SGN yang mengelola 36 pabrik gula di bawah PTPN Group itu, terang dia, memberikan dampak positif dalam perolehan bahan baku tebu (BBT). “Sebelumnya terjadi persaingan di antara industri gula, sehingga harga tebu menjadi tinggi,” kata Yus.
Persaingan antar industri gula itu, terang dia, juga menyebabkan idle capacity PG dan rusaknya pola kemitraan PG dengan petani menjadi pola transaksional.”Dengan dikelolanya PG oleh SGN, manajemen menjadi terpadu, memberi dampak positif, salah satunya klusterisasi sehingga BBT banyak dan bagus,” ungkapnya.
Dengan mengirim tebu ke PG Glenmore, lanjut dia, maka petani di Banyuwangi akan ikut merasakan banyak manfaat. Di antaranya, antrean giling yang tidak lama, biaya transport lebih irit, dan tebu segera diolah sehingga kualitas BBT masih segar dan potensi rendemen tinggi. “Kami transparan dalam perolehan rendemen, sesuai dengan potensi dengan metode core sampler,” lanjutnya.
Yus mengungkap, PG Glenmore memasang target 981 ribu ton tebu tergiling dengan rendemen delapan di tahun giling 2023 ini. Untuk mencapai target itu, berbagai strategi telah dipasang. “Di antaranya mempertahankan efisiensi pabrik, mengurangi loses, dan menekan jam berhenti giling,” ungkapnya.
Untuk kemitraan, jelas dia, diterapkan service excellent atau komunikasi yang intens, pembinaan terkait budidaya, membantu penyaluran sarana produksi melalui program makmur, sehingga pupuk dan pestisida terlaksana tepat waktu. “Ini utuk meningkatkan kualitas produksi juga,” terangnya.
Terkait pola kemitraan dengan petani, Direktur Utama PT SGN) Aris Toharisman menegaskan sistem bagi hasil merupakan pola kemitraan yang saling menguntungkan. “Kita fokusnya ke sistem bagi hasil, esensi dari kemitraan pabrik gula dengan petani itu ada di sistem bagi hasil,” ujarnya.
Aris menyebut ini akan bergantung pada kualitas tebu yang masuk. Apabila tebu petani berkualitas baik dan rendemennya tinggi, maka bagian petani juga akan lebih tinggi dan akan mendorong petani untuk bisa meningkatkan kualitas tebunya, sehingga kadar gulanya tinggi. “Itulah bentuk kemitraan yang sesungguhnya yang akan meningkatkan kesejahteraan petani,” ungkapnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi