Pelatihan yang melibatkan ibu-ibu di pesisir pantai Banyuwangi itu telah berlangsung sejak Juli 2022. Setahun berlalu, pelatihan itu telah memberikan beberapa hasil. Salah satunya menciptakan berbagai produk olahan hasil perikanan dari tangan para istri nelayan.
Produk-produk olahan hasil perikanan itu lantas dipamerkan dalam kegiatan “Semarak Perempuan Perikanan Banyuwangi untuk Indonesia” yang digelar di Taman Blambangan kemarin (18/6). Acara dirangkai dengan kegiatan lomba menggambar, exhibition UMKM, cooking demo, band perform, hingga pembagian door prize kepada seluruh pemenang yang mengikuti lomba dalam acara tersebut.
Kepala Perwakilan FAO Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal mengatakan, perikanan skala kecil (PSP) memainkan peran penting dalam menyediakan gizi dan pendapatan bagi masyarakat. Sekitar 97 persen nelayan di Indonesia adalah skala kecil jika dilihat dari ukuran kapal yang mereka gunakan berukuran di bawah 10 GT. Setengah dari nelayan skala kecil tersebut adalah perempuan. Sedangkan Banyuwangi menjadi salah satu kontributor terkemuka pada perikanan tangkap di provinsi Jatim.
Perempuan di Banyuwangi terlibat dalam pengolahan dan pemasaran produk perikanan, sehingga memegang peran yang signifikan. Perempuan aktif berpartisipasi dalam semua tahap budi daya atau penangkapan ikan, pengolahan, dan distribusi, serta berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan, pelestarian, dan pemenuhan gizi keluarga. Meskipun mereka mempunyai kontribusi signifikan, tetapi kebutuhan dan kontribusi mereka sering terabaikan.
Badan Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memulai proyek “Implementasi Pedoman Perikanan Skala Kecil untuk Sistem Pangan dan Mata Pencaharian yang Adil Gender dan Tahan Perubahan Iklim” di Banyuwangi sejak Juli 2022. Tujuan utama proyek ini adalah mempromosikan kesetaraan gender dan sistem pangan serta mata pencarian yang tahan perubahan iklim di komunitas PSP.
Berbagai intervensi telah dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas kelompok perempuan dalam PSP dan memperkuat keterlibatan mereka dalam rantai nilai perikanan, terutama dalam kegiatan pasca panen. Menekankan peran sentral mereka dalam mempromosikan ikan sebagai sumber gizi untuk konsumsi sehari-hari. ”Penting untuk mengakui peran perempuan dalam perikanan skala kecil. Perempuan memainkan peran sentral dalam mempromosikan ikan sebagai sumber gizi dan konsumsi harian,” ujarnya.
Aryal mengaku, survei terbaru FAO yang dilakukan di Banyuwangi mengungkapkan bahwa meskipun perempuan memiliki akses yang hampir sama terhadap kegiatan perikanan, hampir 80 persen dari mereka tidak terlibat dalam pengambilan keputusan terkait penggunaan pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan ketidakseimbangan peran perempuan dalam ranah ekonomi.
”Selama satu tahun perjalanan proyek, berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas kelompok perempuan, khususnya dalam peningkatan kesadaran untuk berperan dalam pengambilan keputusan, pengembangan kapasitas organisasi, pengembangan usaha, dan peningkatan kualitas serta daya saing produk olahan ikan,” tuturnya. (tar/sgt)
Editor : Syaifuddin Mahmud