KALIPURO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Menjelang Idul Adha 1444 Hijriah, permintaan sapi untuk kurban terus meningkat. Dua pekan menjelang Lebaran Haji ini, permintaan sapi di Banyuwangi telah mencapai ribuan ekor. Padahal, harga sapi sudah mengalami kenaikan sejak awal Juni.
Salah satu pedagang sapi, Agus Supriyadi, 42, mengatakan, dibandingkan tahun lalu ada kenaikan harga antara Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per ekor sapi. Peningkatan harga tersebut bukan disebabkan minimnya stok akibat tingginya permintaan.
Dijelaskan, kenaikan harga disebabkan tingginya harga bibit sapi rambon jawa akibat penyakit mulut dan kuku (PMK) tahun lalu. ”Jadi, harga bibit yang biasanya Rp 8 juta naik jadi Rp 10 jutaan per ekor. Karena tahun lalu banyak bibit sapi yang mati,” ujarnya.
Menurut Agus, kenaikan harga sapi tersebut tidak memengaruhi permintaan masyarakat. Dia mengaku untuk wilayah Banyuwangi saja sudah ada pesanan sapi 1.500 ekor. Belum wilayah lain yang selama ini juga dia layani. ”Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) yang biasanya hanya 2.000-an ekor per bulan, saat ini sudah meminta 6.000 ekor dengan nilai transaksi lebih dari Rp 40 miliar. Ya kita kirim terus karena stoknya juga ada. Tahun ini Kalimantan juga minta kiriman dari kita,” ujar pria asal Lingkungan Tanjung tersebut.
Agus mematok sapi rambon jawa dengan harga Rp 20 juta sampai Rp 40 juta per ekor. Tergantung ukuran sapi. Untuk ukuran 330 sampai 340 kilogram (kg), biasanya dihargai Rp 20 jutaan. Sedangkan yang berukuran 600 kg ke atas dihargai Rp 40 juta. ”Yang banyak dibeli ya sapi rambon jawa ini atau orang menyebutnya sapi bali. Karena dagingnya banyak dan tulangnya kecil, sapi jenis ini juga hanya mengonsumsi rumput dan air putih,” imbuh Agus.
Pemilik PT Diki Amelia tersebut menambahkan, permintaan sapi akan terus ada sampai Hari Raya Idul Adha. Bahkan, beberapa pembeli memilih mengambil sapi sampai H plus dua hari raya. (fre/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin