Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin (9/4), di muara Kalilo pengerukan sedimen masih terus dilakuan. Pekerjaan mengeruk lumpur dan endapan sudah tuntas 80 persen. Groundsill yang sebelumnya membatasi muara sungai sudah dijebol, sehingga air sungai langsung mengalir ke area mangrove.
Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi Guntur Priambodo mengatakan, normalisasi muara Kalilo menjadi puncak dari pengerukan sedimentasi di empat segmen Kalilo. Dinas Pengairan berharap normalisasi yang dilakukan dengan anggaran biaya tidak terduga (BTT) bisa segera mengembalikan fungsi normal Kalilo hingga ke muara. "Dengan normalisasi di muara Kalilo, nantinya diharapkan muara Kalilo bisa menerima antara 15 ribu sampai 18 ribu meter kubik air. Atau dengan kecepatan 400 sampai 600 meter kubik air per detik,’’ kata Guntur.
Selain itu, dengan pengerukan sedimen besar-besaran, kondisi muara Kalilo ditargetkan bisa seperti sedia kala. Kedalamannya mencapai 2 meter dengan lebar 30 meter. Dengan kondisi normal, luapan sungai Kalilo tidak akan sampai melubar ke permukiman warga. Air bisa langsung mengalir ke laut. "Setelah groundsill dibongkar, proyek reguler normalisasi akan dilanjutkan sampai ke area plengsengan Kampung Mandar,’’ kata Guntur.
Pelaksana proyek pengerukan sedimen Kalilo Totok Cahyono mengatakan, pembongkaran groundill sudah dilakukan pada Jumat lalu (7/4). Tiga alat berat yang didatangkan untuk menjebol bangunan yang selama ini menjadi pembatas antara muara sungai dengan area mangrove.
Pengerukan sedimen akan dilanjutkan maksimal sampai hari Selasa (11/4). Muara yang sudah kembali normal akan dibuatkan jalur agar bisa mengalirkan air ke arah utara. "Untuk pengerjaan ke depan kita belum tahu teknisnya. Yang jelas sedimentasi di muara Kalilo sudah diangkat. Air langsung mengalir ke arah timur,’’ tegasnya.
Ketut, 45, salah seorang warga Lingkungan Kampung Ujung mengatakan, warga mulai tenang setelah Kalilo tak lagi meluap. Dua kali hujan lebat sepekan terakhir tidak sampai mengakibatkan luapan air ke permukiman warga. "Dua kali belabur (air sungai tinggi), airnya tidak ada yang masuk ke rumah waga,’’ kata Ketut. (fre/aif) Editor : Gerda Sukarno Prayudha