Prosesi Ciswak dipimpin suhu Gunawan Tedi. Puluhan umat TITD, mulai anak-anak, dewasa, wanita, pria, hingga lansia berkumpul di depan halaman Kelenteng Hoo Tong Bio pukul 13.00. Suhu Gunawan kemudian memanggil satu-persatu umat yang datang, lalu menyiramkan air kembang di atas kepala warga TITD.
Air bunga lebih dulu disiapkan di dalam gentong. Beberapa umat ada yang hanya disiram saja. Ada pula yang mendapat ritual tambahan dengan diciprati air suci.
Salah seorang umat Kelenteng Ho Tong Bio Ardian mengatakan, ritual Ciswak diyakini bisa menjadi tolak bala bagi yang mengikutinya. Setiap pergantian tahun baru Imlek, semua umat percaya ritual tersebut bermanfaat untuk perjalanan hidup selama setahun ke depan. "Ada lima puluhan umat yang ikut ritual Ciswak. Mereka diminta membawa dua keping uang logam untuk mahar ritual Ciswak," terangnya.
Ritual Ciswak ada tata caranya. Ada yang hanya dimandikan air bunga, ada yang ditambah dengan cipratan air, dan ada yang diminta sembahyang di hadapan Kongco. "Entah dari mana melihatnya, tapi suhu Gunawan seperti mengerti permasalahan tiap umat yang ikut Ciswak. Semakin berat masalahnya, ritualnya juga berbeda," jelasnya.
Malam sebelumnya, umat juga menggelar sembahyang Siang Sin. Tujuannya mengantarkan para dewa di Kelenteng Hoo Tong Bio naik ke surga. Sembahyangan digelar sampai tengah malam. Yang istimewa, dalam sembahyangan tersebut umat menyajikan madu dan kue keranjang. "Dengan menyajikan madu, laporan para dewa ke Tuhan nanti manis-manis dan yang baik-baik," ucapnya.
Puncak ritual penyambutan tahun baru Imlek akan digelar Sabtu depan (21/1) pukul 23.00. Ritual dilanjutkan dengan sembayang Bi Lek Hud pada pukul 00.00. "Puncaknya di malam tahun baru. Tiga hari kemudian, yaitu tanggal 25 ada sembahyang Ciap Sin untuk menyambut dewa yang turun ke bumi," kata Ardian. (fre/aif) Editor : Gerda Sukarno Prayudha