Sebelum meninggal, Dzoel sempat menjalani operasi hernia di Rumah Sakit Al Huda Gambiran pada Rabu (17/8). Setelah beberapa hari menjalani rawat inap, Dzoel baru diperkenankan pulang pada Senin (22/8). Namun, pihak keluarga meminta pulang paksa pada Sabtu (20/8).
Kabar duka itu langsung menyebar ke media sosial. Sejumlah teman dan kerabat seolah tidak percaya dengan kabar meninggalnya Dzoel. ”Saya memang mendapat kabar Dzoel meninggal saat masih di PKU Muhammadiyah Rogojampi. Saya belum yakin dengan kabar tersebut,” ungkap Supardi, sahabat Dzoel dengan mata berkaca-kaca.
Supardi mengaku tidak tahu kalau selama ini Dzoel sakit dan menjalani operasi. Supardi mengaku menjalin komunikasi terakhir pada bulan Ramadan lalu dan sejak saat itu belum pernah berkomunikasi lagi. ”Dzoel sahabat lama dan banyak cerita kenangan yang tidak bisa saya ungkapkan,” katanya.
Kenangan yang paling diingat adalah ketika Dzoel bercita-cita ingin mendaki puncak Ijen. Keinginan itu akhirnya bisa diwujudkan bersama komunitas fotografer AOS. ”Alhamdulillah, bersama kawan-kawan kami bisa mewujudkan impian Dzoel naik hingga ke kawah Ijen kala itu,” kenang warga Singojuruh saat takziah di rumah duka kemarin.
Dzoel meninggal dunia sekitar pukul 10.00 di RSU PKU Muhammadiyah Rogojampi. Kawan, kerabat, dan handai tolan ikut mengantar kepergian sosok inspiratif itu ke tempat peristirahatan terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Benelan Lor.
Hadir di rumah duka, Plt Camat Kabat Bibin Widiatmoko, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda, dan sejumlah pejabat lainnya. Bang Dzoel memang sangat terkenal di Banyuwangi. Dia merupakan sosok difabel multitalent yang menginspirasi banyak orang.
Bahkan, foto pertama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dan Wakil Bupati Sugirah yang mengenakan pakaian dinas jelang pelantikan adalah karya Dzoel. Foto tersebut lantas dipajang di kantor Pemkab Banyuwangi dan seluruh kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Banyuwangi. Sosok yang sangat inspiratif itulah yang membuat Ipuk memilih Bang Dzoel untuk memotretnya pertama kali mengenakan pakaian dinas resmi.
Dzoel mendapat undangan ke luar negeri berkat karya fotonya. Salah satunya adalah saat Dzoel mendapat sorotan media internasional Aljazeera karena kegigihannya. Dzoel harus menempelkan badan kamera ke wajah karena tak memiliki jari-jari. Untuk menekan tombol on dan off kamera, dia menggunakan bibir. Sedangkan bagian bawah tangannya yang kecil menekan shutter.
Tak hanya piawai mengoperasikan kamera, mahasiswa Jurusan Hukum Untag 1945 Banyuwangi itu juga mahir bermain piano.
Untuk mencapai kesuksesan bagi Dzoel tidaklah mudah. Sewaktu belajar di sekolah menengah atas (SMA), Dzoel pernah tidak disapa teman-teman dan beberapa gurunya karena keterbatasan fisiknya. Mereka mengatakan sekolah yang ia masuki tak sesuai untuk lulusan Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) seperti dirinya.
Yang lebih miris lagi ketika ia baru dilahirkan. Ibu kandung Dzoel hampir saja memasukkanya ke kantong kresek untuk dibuang. Beruntung, ibu angkatnya berhasil mencegah hal itu dan kemudian bersedia merawatnya.
Ketika duduk di bangku kelas 6 SD, Dzoel sempat ingin bunuh diri karena minder. Sebenarnya tidak ada yang mengolok-olok, tetapi Dzoel merasa aneh dengan diri sendiri karena tak memiliki tangan dan kaki. Beruntung, keinginan bunuh diri diurungkan dan dia melanjutkan pendidikan ke SMPLB.
Kepergian Dzoel untuk selamanya membuat Ketua Komunitas Peduli Difabel Aura Lentera Banyuwangi Indah Catur Cahyaningtyas merasa kehilangan. Di mata teman-teman Aura Lentera, Dzoel adalah difabel yang sangat inspiratif. ”Saat kecil Dzoel adalah murid bagi kami. Saat beranjak dewasa ia menjadi kawan perjuangan untuk membangkitkan sahabat-sahabat difabel serta mewujudkan kesetaraan dan inklusi,” kata Indah.
Tidak hanya bergerak, Dzoel juga memberi motivasi bagi jutaan orang di dunia dengan kegigihannya. ”Kami keluarga besar Aura Lentera sangat berduka, kehilangan tokoh istimewa. Kami berharap, semangat yang telah dia tebar akan terus hangat dan lebih banyak lagi sahabat difabel menemukan kesuksesan,” ujar istri Windoyo itu. (ddy/aif/c1) Editor : Gerda Sukarno Prayudha