Pameran kepurbakalaan di halaman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi berlangsung hingga malam nanti. Pameran yang dikemas dengan standar protokol kesehatan ini juga menyajikan karya seni baru. Di antaranya perupa N. Kojin, Windu Pamor, dan dua pelukis muda Miftahul bersama Riyan Art.
SHULHAN HADI, Banyuwangi
”Terik mataharinya itu, saya kepanasan sampai garing.” Begitulah jawaban N. Kojin saat ditanyai ide atas karya lukisnya dengan judul ”Menata Keseimbangan”. Pertanyaan itu mungkin akan dilayangkan banyak orang saat melihat karya yang dia buat. Maklum, bagi kalangan awam seni lukisan, karya yang digarap Kojin di atas kanvas berukuran 140 x 140 cm seperti karya asal-asalan. Sekilas, karyanya mirip goresan warna yang dikerjakan begitu saja.
Namun, siapa sangka jika karya tersebut dibanderol dengan harga yang cukup mahal, Rp 23 juta. Karya lukisan tersebut saat ini sudah ada yang menawar. ”Ya sudah ditawar, tapi belum deal,” kata Kojin.
Saat membuat karya itu, Kojin tidak sendirian. Di sampingnya ada Windu Pamor, pelukis yang cukup produktif dengan karya on the spot (OTS). Berbeda dengan karya abstrak yang dibuat Kojin, objek yang ditiru Windu ke dalam lukisannya sangat jelas, yakni tanaman hias kadaka yang menempel di batang pohon sawo kecik.
Tidak butuh waktu lama untuk membuat karya lukis tersebut. Bersamaan dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata M. Yanuarto Bramuda selesai menyampaikan pidato, lukisan dengan dominasi warna hijau itu selesai dikerjakan. ”Ya kira-kira tidak sampai satu jam selesai,” ujar Windu yang biasa melukis di Langgar Art tersebut.
Ide pembuatan lukisan datang malam hari sebelumnya saat ikut menata tempat pameran. Bagi Windu kekuatan lukisan OTS berada pada spontanitas pengerjaan serta kondisi di sekitarnya saat karya tersebut dibuat. ”Idenya semalam, sampai sini saya mantapkan melukis ini,” katanya.
Saat ditanya berapa biaya untuk melepas lukisan itu, dengan santai pelukis yang sering melakukan aksi OTS ini menjawab dengan gerakan tangan menunjukkan angka Rp 10 juta. ”Kalau normal, sepuluh, kalau OTS monggo ditawar,” tegasnya.
Bukan hanya Windu Pamor seorang, objek tanaman itu tampaknya juga menginspirasi peserta OTS yang lain. Pelukis muda asal Segobang Kecamatan Licin, Miftahul, juga melukis objek yang sama. Namun, dia memilih media kanvas yang lebih kecil untuk menorehkan warna-warna dari kuasnya. Miftahul memilih tanaman sebagai objek lukisan karena dianggap paling mencolok dalam pameran ini. ”Yang dipamerkan benda purbakala, tanaman ini benda saat ini dan melengkapi,” terangnya.
Selain benda hidup, koleksi pameran berupa barong di depan pintu masuk museum tak lepas dari bidikan. Pelukis muda dari Ketapang, Riyan Art, menjadikan Barong Kemiren sebagai inspirasi untuk karyanya. Ukuran kanvas yang dipilih Riyan cukup kecil, sementara perpaduan warna yang dituang cukup beragam dan berani. Lukisan yang dia buat seperti memadukan objek tradisi dengan gaya urban yang sering dipakai dalam seni jalanan grafiti. ”Saya melihat barong ini unik saja,” jelasnya.
Kini, empat karya tersebut ikut dipamerkan dalam Pameran Kepurbakalaan bersama benda-benda antik milik para kolektor. Bagi peminat karya seni rupa, alangkah baiknya segera meluangkan waktu untuk melihat karya tersebut, mumpung pameran masih dibuka. Atau jika tidak, Anda akan didahului para kolektor yang sudah menawar sejak kemarin. Bagi para kolektor, ketika rasa indah itu sudah didapat dari lukisan, harga bukan lagi menjadi masalah. (aif/c1)
Editor : AF Ichsan Rasyid