Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tetap Merdeka, Merah Putih Berkibar di Tengah Hutan Mahoni

Syaifuddin Mahmud • Selasa, 1 September 2020 | 00:33 WIB
tetap-merdeka-merah-putih-berkibar-di-tengah-hutan-mahoni
tetap-merdeka-merah-putih-berkibar-di-tengah-hutan-mahoni

SUARA rekaman lagu Indonesia Raya kemarin (17/8) pagi berkumandang menembus deretan pepohonan mahoni yang ada di Wisata Sumber Manis, Lingkungan Suko, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro. Lantunannya menderu di sela suara gesekan daun pepohonan dan raung mesin kendaraan grandong yang rutin melintas di pagi hari.


Sebuah upacara bendera sederhana sedang digelar masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan tersebut untuk memperingati 75 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Pesertanya, ada mandor hutan, anak-anak yang tinggal di wilayah hutan, dan kelompok sadar wisata. Masyarakat yang kebetulan melintas pun turut menjadi peserta dadakan begitu lagu kebangsaan Indonesia diputar.


Mereka serentak memberi hormat kepada sang Merah Putih yang dikerek di tengah pepohonan mahoni. Meski di perkotaan tengah digaungkan larangan untuk untuk berkumpul, nyata-nyata hal itu seolah tak berlaku. Bagi para masyarakat hutan, semangat untuk tunduk kepada merah putih jauh lebih besar daripada harus patuh kepada ancaman pandemi korona.


“Ini sudah yang keempat kalinya kita gelar sejak masyarakat di Lingkungan Suko membuka tempat Wisata Sumber manis. Dulu yang mengadakan lomba dan upacara hanya perkebunan saja. Tapi masyarakat ingin ikut merayakan juga, jadi ada upacara di sini,” ujar Joko Warsito, 47, tokoh masyarakat Lingkungan Suko.


Riwayat berdirinya upacara bendera di tengah hutan itu memang belum lama. Baru pada tahun 2016 masyarakat bisa menggelar upacara bendera di bagian hutan yang kini sudah bisa mereka kelola sebagai tempat wisata. Pria berambut gondrong itu mengatakan, upacara dan pengibaran bendera yang dilakukannya bersama masyarakat hutan menjadi wujud kecintaan kepada Republik Indonesia. Bahkan menurutnya masyarakat selalu menunggu peringatan 17-an digelar.


Sebelum pandemi, kegiatan semacam itu menurutnya bahkan bisa digelar berturut-turut selama empat hari empat malam. Selain upacara, masyarakat biasanya mengisi dengan hiburan semacam orkes, kesenian janger, dan berbagai perlombaan. Tak heran, jika setiap ada momen 17-an, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Pun ketika Covid 19 sudah mengambil alih hampir seluruh sendiri kegiatan masyarakat.


 “Kita juga ingatkan maysarakat untuk menjaga hidup sehat dan bersih. Waspada tetap, tapi jangan takut berlebihan. Upacara ini menumbuhkan rasa memiliki masyarakat kepada Indonesia. kalau sudah ada rasa memiliki, pasti akan muncul rasa saling menjaga,” imbuh Joko.


Upacara yang digelar di tengah rimbun dedaunan hutan itu sendiri berjalan khidmat. Meski para petugas kerap terbata-bata saat mengucapkan tatanan upacara, namun mereka tampak sangat bersemangat melafalkanya. Suasana haru semakin terasa pekat ketika suara sang Plokamator, Bung Karno, yang tengah membaca proklamasi diputar ulang. Suaranya menggema seolah turut menggetarkan akar-akar pohon. Warsito sampai dibuat tertunduk dibuatnya.Seolah ikut menahan haru mendengarkan suara presiden pertama republik Indonesia itu.


     Usai upacara, panitia langsung menggelar lomba-lomba sederhana. Tak bisa dibilang mewah, tapi cukup meriah untuk sebuah kegiatan yang digelar saat pandemi. Lomba-lombanya pun sederhana, hanya anak-anak yang terlibat. Tapi pekik suara orang tua yang menyemangati cukup kencang. Tak kalah dengan lomba-lomba yang digelar di kecamatan.


Lagu-lagu kemerdekaan juga terus berkumandang selama perlombaan berlangsung. Tokoh masyarakat lainnya, Hadi Sucipto, 43, menambahkan, upacara yang digelarnya bersama warga bertujuan untuk membangkitkan jiwa patriotisme. Dan upacara adalah bagian dari implementasi rasa patriotisme yang dimiliki warga. ”Kita tidak ikut perang masa upacara saja tidak mau,” kata Hadi sambil menggenggam tangan.

Editor : Syaifuddin Mahmud
#banyuwangi