Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

M Arif Nursamsu Gerakkan Masyarakat untuk Membudidaya Buah Alpukat

Lugas Rumpakaadi • Senin, 29 Januari 2024 | 15:53 WIB
OBOR SEMANGAT: M Arif Nursamsu dengan pohon alpukat yang berbuah lebat di Desa Jajag, Kecamatan Gambiran.
OBOR SEMANGAT: M Arif Nursamsu dengan pohon alpukat yang berbuah lebat di Desa Jajag, Kecamatan Gambiran.

GAMBIRAN, Jawa Pos Radar Genteng – M Arif Nursamsu salah satu sosok kreatif di Banyuwangi selatan. Selama pandemi Covid-19, pria asal Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo ini mampu menggerakkan masyarakat untuk membudidayakan alpukat, terutama masyarakat yang tinggal di pinggir hutan.

Budidaya tanaman di tengah lahan hutan ini, biasa dikenal agroforestri. Bermodal seribu bibit alpukat yang dimiliki, kini sudah ada 45 ribu pohon yang tumbuh tersebar di kawasan hutan Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Selain itu, juga di sejumlah tanah milik Karang Taruna di empat kecamatan, dan beberapa pondok pesantren di wilayah Kecamatan Muncar dan Tegaldlimo.

Seribu bibit alpukat itu, sengaja dibeli Arif dari penjual bibit. Saat itu, usahanya Dragon Café membutuhkan alpukat untuk bahan minuman. “Saat itu harga alpukat mencapai Rp 45 ribu per kilogram, dan itu didapat dari Medan, Sumatera Utara,” katanya.

Arif merasa alpukat cocok untuk dibudayakan di Banyuwangi, seperti halnya buah naga dan jeruk. Sehingga, membeli bibit alpukat untuk ditanam di lahan sekitar kafenya. “Sisanya ada seribu bibit,” ujarnya.

Saat pandemi Covid-19, aktivitas di kafe sangat terbatas dengan diberlakukan aturan yang melarang masyarakat untuk berkumpul. “Saya mendapat ide untuk mengajak LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) di Desa Jambewangi (Kecamatan Sempu) menanam alpukat,” ungkapnya.

Kegiatan penanaman bibit alpukat di lahan yang dikelola Perhutani KPH Banyuwangi Barat itu, disambut baik oleh masyarakat sekitar dan pemilik lahan. “Awalnya ya sulit, karena harus memberi contoh pada masyarakat dulu,” ungkapnya.

Arif mengajak masyarakat untuk aktif merawat tanaman alpukat yang ditanam di lahan hutan. Setiap pagi, sekitar pukul 03.00, ia ada di hutan untuk merawat tanaman alpukat. “ Masyarakat akhirnya termotivasi untuk merawat tanamannya masing-masing,” terangnya.

Kegiatan itu berbuah manis, sebanyak 45 ribu pohon alpukat sudah ditanam. Tak hanya itu, jumlah masyarakat yang mau membudidayakan alpukat juga meningkat drastis hingga kurang lebih seribu orang. “Itu belum termasuk dari Karang Taruna dan pondok pesantren,” ujarnya.

Arif berharap, ke depan semakin banyak masyarakat yang mau membudidayakan alpukat. Karena Banyuwangi masih belum bisa swasembada atau memenuhi kebutuhan alpukat sendiri. “Dengan potensi yang sudah ada, nanti bisa memenuhi kebutuhan lokal dan menarik minat investor untuk membangun industri pengolahan alpukat di Banyuwangi,” harapnya.(gas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#alpukat #terbatas #Buah Naga #masyarakat #bibit #aturan #gerakan #Aktivitas #tanaman #Dragon #Penjual #kreatif