TEGALDLIMO, Jawa Pos Radar Genteng – Dari hulu hingga hilir. Mulai proses penetasan telur, budi daya, sampai pemasaran bebek pedaging. Itulah yang dilakukan mayoritas warga Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo. Tak heran, dusun ini dikenal sebagai Kampung Bebek.
Sebelum resmi menyandang gelar itu, seorang pemuda desa setempat, Nur Kholis, yang pertama mengawali usaha peternakan bebek ini. “Sekitar tahun 2018 akhir, saya memulai usaha bebek berbekal pengalaman pribadi,” ungkapnya.
Nur, panggilan akrabnya, mengaku sebelum terjun ke bisnis ternak bebek, pria 38 tahun itu mengawali pekerjaan sebagai penjual bebek pedaging. “Sejak tahun 2009 saya merintis sebagai pedagang, itu sambil cari-cari ilmu ke peternak,” katanya.
Berbekal pengalaman itulah, Nur memberanikan diri untuk mencoba usaha ternak bebek. Yang menarik, usaha itu tidak dijalankannya sendiri, tapi dengan memberdayakan masyarakat sekitar rumahnya. “Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain,” cetusnya.
Sejak saat itulah, Nur mulai mengajak tetangganya untuk ikut usaha ternak bebek yang dilakoni. Ternyata, usahanya ini mendapat respon positif dari masyarakat sekitar. “Banyak yang mendukung dan mau bergabung sebagai peternak bebek,” ujarnya.
Ada dua jenis bebek yang dibudidayakan oleh Nur, bebek hibrida dan peking. Kedua jenis bebek itu umum ditemui di pasaran untuk dikonsumsi. “Saat ini harga per kilogramnya mencapai Rp 38 ribu hingga Rp 40 ribu,” ungkapnya.
Nur menyebut saat ini sudah memiliki 40 peternak mitra yang seluruhnya adalah warga Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo. “Peternak mitra ini tugasnya membesarkan meri (anak bebek) hingga menjadi dewasa,” terangnya.
Dalam kemitraan itu, terang dia, setiap kepala keluarga (KK) diberi kuota untuk memelihara mulai 500 hingga 1.000 ekor meri hingga dewasa. “Satu meri nilainya Rp 3000, kalau bisa membesarkan hingga dewasa, pendapatan petani mitra bisa sampai Rp 3 juta,” katanya.
Untuk membesarkan anak bebek, Nur menyebut butuh waktu sekitar 35 hari. Waktu selama itu, kata dia, belum termasuk waktu penetasan yang butuh waktu hingga 27 hari. “Total dari telur hingga dewasa butuh waktu 62 hari,” ungkapnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi